The Alien - Link Select

Rabu, 3 Julai 2013

TASAWUF : AJARAN NABI MUHAMMAD SAW ???

Saya pernah menulis tentang dukungan para ulama besar Fiqih pendiri 4 mazhab besar dan juga pendapat ulama besar zaman sekarang seperti Syekh Yusuf Al-Qardawi dalam dua tulisan yaitu Kesaksian Ulama Fiqih Tentang Tasawuf dan khusus pendapat Syekh Yusuf Qardawi terhadap tasawuf bisa di baca di Fatwa Al-Qardawi Tentang Tasawuf. Berikut adalah tulisan  yang saya kutip sebuah komentar dari blog MutiaraZuhud tentang kehidupan Rasulullah dan Para Sahabat yang menjadi sumber ajaran tasawuf untuk meyakinkan kita semua bahwa ajaran tasawuf adalah benar-benar ajaran Rasulullah SAW.

Benih-benih tasawuf sudah ada sejak dalam kehidupan nabi Muhammad SAW. Hal ini dapat dilihat dalam perilaku dan peristiwa dalam hidup, ibadah dan perilaku nabi Muhammad SAW.
Peristiwa dan Perilaku Hidup Nabi. Sebelum diangkat menjadi Rasul, berhari-hari beliau berkhalawat (mengasingkan diri) di Gua Hira, terutama pada bulan Ramadhan disana nabi banyak berzikir dan bertafakur dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Pengasingan diri Nabi SAW digua Hira ini merupakan acuan utama para sufi dalam melakukan khalawat. Kemudian puncak kedekatan Nabi SAW dengan Allah SWT tercapai ketika melakukan Isra Mikraj. Di dalam Isra Mikraj itu nabi SAW telah sampai ke Sidratulmuntaha (tempat terakhir yang dicapai nabi ketika mikraj di langit ke tujuh), bahkan telah sampai kehadiran Ilahi dan sempat berdialog dgn Allah. Dialog ini terjadi berulang kali, dimulai ketika nabi SAW menerima perintah dari Allah SWT tentang kewajiban shalat lima puluh kali dalam sehari semalam. Atas usul nabi Musa AS, Nabi Muhammad SAW memohon agar jumlahnya diringankan dengan alasan umatnya nanti tidak akan mampu melaksanakannya. Kemudian Nabi Muhammad SAW terus berdialog dengan Allah SWT. Keadaan demikian merupakan benih yang menumbuhkan sufisme dikemudian hari.
Perikehidupan (sirah) nabi Muhammad SAW juga merupakan benih-benih tasawuf yaitu pribadi nabi SAW yang sederhana, zuhud, dan tidak pernah terpesona dengan kemewahan dunia. Dalam salah satu Doanya ia memohon: "Wahai Allah, Hidupkanlah aku dalam kemiskinan dan matikanlah aku selaku orang miskin" (HR.at-Tirmizi, Ibnu Majah dan al-Hakim).
"Pada suatu waktu Nabi SAW datang kerumah istrinya, Aisyah binti Abu Bakar as-Siddiq. Ternyata dirumahnya tidak ada makanan. Keadaan ini diterimanya dengan sabar, lalu ia menahan lapar dengan berpuasa" (HR.Abu Dawud, at-Tirmizi dan an-Nasa-i) .
Ibadah Nabi Muhammad SAW. Ibadah nabi SAW juga sebagai cikal bakal tasawuf. Nabi SAW adalah orang yang paling tekun beribadah. Dalam satu riwayat dari Aisyah RA disebutkan bahwa pada suatu malam nabi SAW mengerjakan shalat malam, didalam salat lututnya bergetar karena panjang dan banyak rakaat salatnya. Tatkala rukuk dan sujud terdengar suara tangisnya namun beliau tetap melaksanakan salat sampai azan Bilal bin Rabah terdengar diwaktu subuh. Melihat nabi SAW demikian tekun melakukan salat, Aisyah bertanya: "Wahai Junjungan, bukankah dosamu yang terdahulu dan yang akan datang diampuni Allah, mengapa engkau masih terlalu banyak melakukan salat?" nabi SAW menjawab:" Aku ingin menjadi hamba yang banyak bersyukur" (HR.Bukhari dan Muslim).
Selain banyak salat nabi SAW banyak berzikir. Beliau berkata: "Sesungguhnya saya meminta ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya setiap hari tujuh puluh kali" (HR.at-Tabrani).
Dalam hadis lain dikatakan bahwa Nabi SAW meminta ampun setiap hari sebanyak seratus kali (HR.Muslim). Selain itu nabi SAW banyak pula melakukan iktikaf dalam mesjid terutama dalam bulan Ramadan.
Akhlak Nabi Muhammad SAW. Akhlak nabi SAW merupakan acuan akhlak yang tidak ada bandingannya. Akhlak nabi SAW bukan hanya dipuji oleh manusia, tetapi juga oleh Allah SWT. Hal ini dapat dilihat dalam firman Allah SWT yang artinya: "Dan sesungguhnya kami (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung".(QS.Al Qalam:4) ketika Aisyah ditanya tentang Akhlak Nabi SAW, Beliau menjawab: Akhlaknya adalah Al-Qur'an"(HR.Ahmad dan Muslim). Tingkah laku nabi tercermin dalam kandungan Al-Qur'an sepenuhnya.
Dalam diri nabi SAW terkumpul sifat-sifat utama, yaitu rendah hati, lemah lembut, jujur, tidak suka mencari-cari cacat orang lain, sabar, tidak angkuh, santun dan tidak mabuk pujian. Nabi SAW selalu berusaha melupakan hal-hal yang tidak berkenan di hatinya dan tidak pernah berputus asa dalam berusaha.
Oleh karena itu, Nabi SAW merupakan tipe ideal bagi seluruh kaum muslimin, termasuk pula para sufi. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al-Ahzab ayat 21 yang artinya:"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah.".
Kehidupan Empat Sahabat Nabi Muhammad SAW.
Sumber lain yang menjadi sumber acuan oleh para sufi adalah kehidupan para sahabat yang berkaitan dengan keteguhan iman, ketakwaan, kezuhudan dan budi pekerti luhur. Oleh karena setiap orang yang meneliti kehidupan rohani dalam islam tidak dapat mengabaikan kehidupan kerohanian para sahabat yang menumbuhkan kehidupan sufi diabad-abad sesudahnya.
Kehidupan para sahabat dijadikan acuan oleh para sufi karena para sahabat sebagai murid langsung Rasulullah SAW dalam segala perbuatan dan ucapan mereka senantiasa mengikuti kehidupan Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu perilaku kehidupan mereka dapat dikatakan sama dengan perilaku kehidupan Nabi SAW, kecuali hal-hal tertentu yang khusus bagi Nabi SAW. Setidaknya kehidupan para sahabat adalah kehidupan yang paling mirip dengan kehidupan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW karena mereka menyaksikan langsung apa yang diperbuat dan dituturkan oleh Nabi SAW. Oleh karena itu Al-Qur'an memuji mereka: " Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk islam) diantara orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah sediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar". (QS.At Taubah:100).
Abu Nasr as-Sarraj at-Tusi menulis didalam bukunya, Kitab al-Luma', tentang ucapan Abi Utbah al-Hilwani (salah seorang tabiin) tentang kehidupan para sahabat:" Maukah saya beritahukan kepadamu tentang kehidupan para sahabat Rasulullah SAW? Pertama, bertemu kepada Allah lebih mereka sukai dari pada kehidupan duniawi. Kedua, mereka tidak takut terhadap musuh, baik musuh itu sedikit maupun banyak. Ketiga, mereka tidak jatuh miskin dalam hal yang duniawi, dan mereka demikian percaya pada rezeki Allah SWT."
Adapun kehidupan keempat sahabat Nabi SAW yang dijadikan panutan para sufi secara rinci adalah sbb:
Abu Bakar as-Siddiq.
Pada mulanya ia adalah salah seorang Kuraisy yang kaya. Setelah masuk islam, ia menjadi orang yang sangat sederhana. Ketika menghadapi perang Tabuk, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, Siapa yang bersedia memberikan harta bendanya dijalan Allah SWT. Abu Bakar lah yang pertama menjawab:"Saya ya Rasulullah." Akhirnya Abu Bakar memberikan seluruh harta bendanya untuk jalan Allah SWT. Melihat demikian, Nabi SAW bertanya kepada: "Apalagi yang tinggal untukmu wahai Abu Bakar?" ia menjawab:"Cukup bagiku Allah dan Rasul-Nya."
Diriwayatkan bahwa selama enam hari dalam seminggu Abu Bakar selalu dalam keadaan lapar. Pada suatu hari Rasulullah SAW pergi kemesjid. Disana Nabi SAW bertemu Abu Bakar dan Umar bin Khattab, kemudian ia bertanya:"Kenapa anda berdua sudah ada di mesjid?" Kedua sahabat itu menjawab:"Karena menghibur lapar."
Diceritakan pula bahwa Abu Bakar hanya memiliki sehelai pakaian. Ia berkata:"Jika seorang hamba begitu dipesonakan oleh hiasan dunia, Allah membencinya sampai ia meninggalkan perhiasan itu." Oleh karena itu Abu Bakar memilih takwa sebagai "pakaiannya." Ia menghiasi dirinya dengan sifat-sifat rendah hati, santun, sabar, dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan ibadah dan zikir.
Umar bin Khattab
Umar bin Khattab yang terkenal dengan keheningan jiwa dan kebersihan kalbunya, sehingga Rasulullah SAW berkata:" Allah telah menjadikan kebenaran pada lidah dan hati Umar." Ia terkenal dengan kezuhudan dan kesederhanaannya. Diriwayatkan, pada suatu ketika setelah ia menjabat sebagai khalifah, ia berpidato dengan memakai baju bertambal dua belas sobekan.
Diceritakan, Abdullah bin Umar, putra Umar bin Khatab, ketika masih kecil bermain dengan anak-anak yang lain. Anak-anak itu semua mengejek Abdullah karena pakaian yang dipakainya penuh dengan tambalan. Hal ini disampaikannya kepada ayahnya yang ketika itu menjabat sebagai khalifah. Umar merasa sedih karena pada saat itu tidak mempunyai uang untuk membeli pakaian anaknya. Oleh karena itu ia membuat surat kepada pegawai Baitulmal (Pembendaharaan Negara) diminta dipinjami uang dan pada bulan depan akan dibayar dengan jalan memotong gajinya.
Pegawai Baitulmal menjawab surat itu dengan mengajukan suatu pertanyaan, apakah Umar yakin umurnya akan sampai bulan depan. Maka dengan perasaan terharu dengan diiringi derai air mata , Umar menulis lagi sepucuk surat kepada pegawai Baitul Mal bahwa ia tidak lagi meminjam uang karena tidak yakin umurnya sampai bulan yang akan datang.
Disebutkan dalam buku-buku tasawuf dan biografinya, Umar menghabiskan malamnya beribadah. Hal demikian dilakukan untuk mengibangi waktu siangnya yang banyak disita untuk urusan kepentingan umat. Ia merasa bahwa pada waktu malamlah ia mempunyai kesempatan yang luas untuk menghadapkan hati dan wajahnya kepada Allah SWT.
Usman bin Affan
Usman bin Affan yang menjadi teladan para sufi dalam banyak hal. Usman adalah seorang yang zuhud, tawaduk (merendahkan diri dihadapan Allah SWT), banyak mengingat Allah SWT, banyak membaca ayat-ayat Allah SWT, dan memiliki akhlak yang terpuji. Diriwayatkan ketika menghadapi Perang Tabuk, sementara kaum muslimin sedang menghadapi paceklik, Usman memberikan bantuan yang besar berupa kendaraan dan perbekalan tentara.
Diriwayatkan pula, Usman telah membeli sebuah telaga milik seorang Yahudi untuk kaum muslimin. Hal ini dilakukan karena air telaga tersebut tidak boleh diambil oleh kaum muslimin.
Dimasa pemerintahan Abu Bakar terjadi kemarau panjang. Banyak rakyat yang mengadu kepada khalifah dengan menerangkan kesulitan hidup mereka. Seandainya rakyat tidak segera dibantu, kelaparan akan banyak merenggut nyawa. Pada saat paceklik ini Usman menyumbangkan bahan makanan sebanyak seribu ekor unta.
Tentang ibadahnya, diriwayatkan bahwa usman terbunuh ketika sedang membaca Al-Qur'an. Tebasan pedang para pemberontak mengenainya ketika sedang membaca surah Al-Baqarah ayat 137 yang artinya:..."Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." ketika itu ia tidak sedikitpun beranjak dari tempatnya, bahkan tidak mengijinkan orang mendekatinya. Ketika ia rebah berlumur darah, mushaf (kumpulan lembaran) Al-Qur'an itu masih tetap berada ditangannya.
Ali bin Abi Talib
Ali bin Abi Talib yang tidak kurang pula keteladanannya dalam dunia kerohanian. Ia mendapat tempat khusus di kalangan para sufi. Bagi mereka Ali merupakan guru kerohanian yang utama. Ali mendapat warisan khusus tentang ini dari Nabi SAW. Abu Ali ar-Ruzbari , seorang tokoh sufi, mengatakan bahwa Ali dianugerahi Ilmu Laduni. Ilmu itu, sebelumnya, secara khusus diberikan Allah SWT kepada Nabi Khaidir AS, seperti firmannya yang artinya:..."dan telah Kami ajarkan padanya ilmu dari sisi Kami." (QS.Al Kahfi:65).
Kezuhudan dan kerendahan hati Ali terlihat pada kehidupannya yang sederhana. Ia tidak malu memakai pakaian yang bertambal, bahkan ia sendiri yang menambal pakiannya yang robek.
Suatu waktu ia tengah menjinjing daging di Pasar, lalu orang menyapanya:"Apakah tuan tidak malu memapa daging itu ya Amirulmukminin (Khalifah)?" Kemudian dijawabnya:"Yang saya bawa ini adalah barang halal, kenapa saya harus malu?".
Abu Nasr As-Sarraj at-Tusi berkomentar tentang Ali. Katanya:"Di antara para sahabat Rasulullah SAW Amirulmukminin Ali bin Abi Talib memiliki keistimewahan tersendiri dengan pengertian-pengertiannya yang agung, isyarat-isyaratnya yang halus, kata-katanya yang unik, uraian dan ungkapannya tentang tauhid, makrifat, iman, ilmu, hal-hal yang luhur, dan sebagainya yang menjadi pegangan serta teladan para sufi.
Kehidupan Para Ahl as-Suffah. Selain keempat khalifah di atas, sebagai rujukan para sufi dikenal pula para Ahl as-Suffah. Mereka ini tinggal di Mesjid Nabawi di Madinah dalam keadaan serba miskin, teguh dalam memegang akidah, dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Diantara Ahl as-Suffah itu ialah Abu Hurairah, Abu Zar al-Giffari, Salman al-Farisi, Mu'az bin Jabal, Imran bin Husin, Abu Ubaidah bin Jarrah, Abdullah bin Mas'ud, Abdullah bin Abbas dan Huzaifah bin Yaman. Abu Nu'aim al-Isfahani, penulis tasawuf (w. 430/1038) menggambarkan sifat Ahl as-Suffah di dalam bukunya Hilyat al-Aulia'(Permata para wali) yang artinya: Mereka adalah kelompok yang terjaga dari kecendrungan duniawi, terpelihara dari kelalaian terhadap kewajiban dan menjadi panutan kaum miskin yang menjauhi keduniaan. Mereka tidak memiliki keluarga dan harta benda. Bahkan pekerjaan dagang ataupun peristiwa yang berlangsung disekitar mereka tidak lah melalaikan mereka dari mengingat Allah SWT. Mereka tidak disedihkan oleh kemiskinan material dan mereka tidak digembirakan kecuali oleh suatu yang mereka tuju.
Diantara Ahl as-Suffah itu ada yang mempunyai keistimewahan sendiri. Hal ini memang diwariskan oleh Rasulullah SAW kepada mereka seperti Huzaifah bin Yaman yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW tentang ciri-ciri orang Munafik. Jika ia berbicara tentang orang munafik, para sahabat yang lain senantiasa ingin mendengarkannya dan ingin mendapatkan ilmu yang belum diperolehnya dari Nabi SAW. Umar bin Khattab pernah tercengang mendengar uraian Huzaifah tentang ciri-ciri orang munafik.
Adapun Abu Zar al-Giffarri adalah seorang Ahl as-Suffah termasyur yang bersifat sosial. Ia tampil sebagai prototipe (tokoh pertama) fakir sejati. Abu Zar tidak pernah memiliki apa-apa, tetapi ia sepenuhnya milik Allah SWT dan akan menikmati hartanya yang abadi. Apabila ia diberikan sesuatu berupa materi, maka materi tersebut dibagi-bagi kepada para fakir miskin.
Begitu juga Salman Al Farisi salah seorang Ahli Suffah yang hidup sangat sederhana sampai akhir hanyatnya. Beliau merupakan salah satu Ahli Silsilah dari Tarekat Naqsyabandi yang jalur keguruan bersambung kepada Saidina Abu Bakar Siddiq sampai kepada Rasulullah SAW.
Mudah-mudahan tulisan di atas menjadi informasi yang bermanfaat bagi kita semua sehingga tidak ragu dalam berguru mengamalkan ajaran Tasawuf yang merupakan inti sari Islam yang bersumber dari ajaran Rasulullah SAW dan kemudian ajaran mulia ini diteruskan oleh Para Sahabat, Tabi'in, Tabi Tabi'in serta para Guru Mursyid sambung menyambung dengan tetap menjaga kemurniannya sehingga ajara tasawuf zaman Rasulullah SAW sampai kepada kita tetap dalam keadaan murni. Para Guru Mursyid adalah khalifah Rasulullah SAW ulama Warisatul Anbiya yang menjaga amanah Rasulullah SAW, tidak berani menambah dan mengurangi sehingga ilmu Tasawuf itu tetap terjaga sepanjang zaman.
"TIDAK KU JADIKAN JIN DAN MANUSIA MELAINKAN UNTUK BERIBADAH KEPADA-KU"

Rujukan :
http://www.waliallah.org/index.php?option=com_content&view=article&id=135%3Atasawuf-adalah-ajaran-rasulullah-saw-dan-para-sahabat&catid=34%3Apemikiran-tasauf&Itemid=56&lang=en

Ahad, 9 Jun 2013

HAJI SIDI SYEIKH Dr. KADIRUN YAHYA???



Menapak Tilas Kesaktian Haji Sidi Syeikh Kadirun Yahya Pendiri dan Rektor Panca Budi yang unik ini adalah seorang yang unik juga. Prof. DR. Haji Sidi Syeikh Kadirun Yahya M.Sc, seorang Naqsyabandiyah yang mempunyai murid banyak di beberapa wilayah Nusantara. (Martin Van Bruinessen, Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia, Penerbit Mizan, Bandung, 1996, hal. l48).

Kadirun Yahya lahir tahun 1917 di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara. Pada usia muda ia tinggal cukup lama di Pulau Jawa, yaitu Yogyakarta dan Magelang, tempat ia menuntut ilmu pada sekolah Belanda (sekolah Mulo) dan AMS.

Ia pernah lama tinggal bersama keluarga seorang Pendeta Belanda dan sempat menjadi asisten sang Pendeta, malahan beberapa kali menggantikannya dalam tugas menguraikan khutbah di Gereja. Dan ia belajar juga tentang agama, aliran kepercayaan, metafisika dan ilmu ghaib lainnya. (Jawa Tengah, pada dasawarsa 1930 an itu, memang sangat kaya akan aneka aliran mistisisme dan kebatinan, aliran teosofi, yang cukup berpengaruh pada waktu itu).

Setelah selesai belajar di Jawa Tengah, Kadirun mengaku pernah tinggal satu dua tahun di Negeri Belanda dan mempelajari ilmu kimia, tetapi tahun 1941 --Belanda saat itu diduduki Jerman-- ia kembali ke Indonesia dan menetap di Sumatera Utara . (Martin Van Bruinessen, Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia, Penerbit Mizan, Bandung, 1996, hal. l50).

Tidak lama setelah pulang ke Sumatera, ia untuk pertama kalinya berhubungan dengan tarekat Naqsyabandiyah. Syeikh Syahbuddin dari Sayur Matinggi (Tapanuli Selatan) mengajarkan dasar-dasar tarekat ini. Pada tahun 1947, Kadirun nikah dengan putri Syeikh Haji Jalaluddin. Melalui mertuanya, yang kediamannya di Bukit Tinggi merupakan tempat pertemuan syeikh-syeikh tarekat, Kadirun akhirnya berkenalan dengan Syeikh yang kelak menjadi guru utamanya, Syeikh Muhammad Hasyim Buayan. (Martin Van Bruinessen, Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia, Penerbit Mizan, Bandung, 1996, hal. l48).

Dalam waktu yang singkat, Syeikh Hasyim mengangkat Kadirun menjadi Khalifahnya (tahun 1950) dan dua tahun kemudian menyatakan sebagai Syeikh sepenuhnya dengan gelar "Sidi Syeikh". Bagi para muridnya Syeikh Kadirun adalah ayah dan Syekh Yasin adalah kakek. (Martin Van Bruinessen, Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia, Penerbit Mizan, Bandung, 1996, hal. l51).

Tahun-tahun Kadirun mulai muncul sebagai guru muda tarekat Naqsabandiyah, merupakan juga tahun-tahun mertuanya sangat giat mengembangkan organisasi PPTI (Partai Poltik Tarekat Islam, pen.). Syeikh Haji Jalaluddin berusaha mengkoordinasi semua guru tarekat dalam wadah ini, termasuk menantunya, yang memang pernah menjadi anggotanya juga. Tetapi hubungan mertua dan menantu cepat menjadi tegang. Menurut Syeikh Kadirun, konflik sudah mulai terasa sekitar tahun 1950 dan disebabkan oleh karena Syeikh Haji Jalaluddin terlalu terang-terangan mengungkapkan segala seluk beluk tarekat kepada siapa saja. Kemudian belakangan Kadirun menuduh mertuanya bahwa ia tidak pemah menerima ijazah dari Syeikh Ali Ridia seperti diakuinya, melainkan mengambil semua pengetahuannya tentang tarekat dari buku saja.

Sumber konflik lain, tentu saja, adalah ambisi kedua tokoh tarekat ini. Sejak menjadi syeikh pada tahun 1952, Syeikh Kadirun mulai melantik khalifah banyak sekali; dalam rentang lima tahun pertama jumlahnya sudah mencapai tiga puluh, dan kemudian setiap tahun bertambah 5 sampai 20 orang. Dan menurut catatan kaki dalam buku tersebut, tgl 10 Oktober 1975, jumlah khalifah sudah mencapai 195. (Martin Van Bruinessen, Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia, Penerbit Mizan, Bandung, 1996, hal. l51).

Kadirun Yahya diangkat oleh Syeikh Hasyim menjadi khalifah Naqsabandiyah tahun 1950. Menjelang Syeikh Hasyim wafat pada tahun 1954 beliau sudah secara diam-diam menurunkan dan mewariskan segala ilmunya kepada Syeikh Kadirun, begitu juga sekalian pusaka yang beliau terima dari Jabal Kubis, Statuten, bendera-bendera kerasulan serta pusaka-pusaka lainnya termasuk cincin kesayangan.

"Akhirnya Syeikh Hasyim wafat, dan keluarga serta murid-muridnya bertangisan. Tetapi lebih kurang empat jam kemudian ia bangun lagi dan menyuruh orang mencari Syeikh Kadirun. Ketika dia datang, sang guru berkata, 'Aku tadi telah meninggal empat jam, tetapi aku permisi pada Tuhan Allah untuk hidup kembali agak sebentar, karena ada lagi yang lupa yang belum aku turunkan pada anak'. Beberapa hari lagi setelah ilmu terakhir ini diturunkan, sang guru berpulang ke rahmatullah." Ini merupakan keanehan ke-6 yang diceriterakan oleh murid-muridnya. (Martin Van Bruinessen, Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia, Penerbit Mizan, Bandung, 1996, hal. l54).

Masih pada buku yang sama, halaman 155-156, dikatakan, "Kalimat Allah, yaitu ayat-ayat Al Qur'an, mengandung tenaga tak terhingga, tenaga nuklir pun belum apa-apa dibandingkan dengan tenaga llahi ini. Kebesaran dari pada Kalimat-kalimat Allah itu, untuk menyambut dan menghancurkan sekaligus, akan ancaman-ancaman bahaya maut bagi umat manusia seperti tersebut di atas! Kalau bukit-bukit dapat dilebur oleh ayat Al Hasyr 21. Dan kalau bukit-bukit dapat dibelah dengan ayat Ar Ra'du 31, pasti apa saja bisa dilebur oleh Kalimah-kalimah Allah yang Maha Agung, termasuk senjata-senjata atom dan nuklir dari negara-negara super power, sehingga bahaya 'kalimat' yang didatangkan oleh tenaga atom dan nuklir dapat dimusnahkan sama sekali…"

"Tetapi bagaimana metode untuk mengeluarkan tenaga tak terhingga dari Kalimah Allah?Disini letak rahasia dan kehebatan tarekat dan fungsi kunci seorang guru murysid pembawa wasilah. Caranya kata Prof. Syeikh Kadirun, adalah dengan mempergunakan frekuensi yang dimiliki Rohani Rasulullah yang hidup di sisi Allah. Huwal Awwalu wal Akhiru, frekuensi mana terdapat melalui frekuensi dari pada Rohani para Ahli silsilah termasuk Rohani Mursyid, sehingga dengan memakai frekuensi itu Rohani kita detik itu juga dapat hadir pada Allah SWT dan kemudian baru berdzikir, dengan baru pula menegakkan shalat. Dengan suatu kiasan fisika lainnya, tenaga Allah adalah ibarat listrik, dan wasilah, penghantar atau saluran manusia dan Allah melalui Mursyid dan Silsilahnya, serupa kawat listrik."

Untuk tujuan-tujuan tertentu ia memakai sebuah tongkat seperti tongkat Nabi Musa. Dengan tongkat ini ia dapat langsung memusatkan energi Ilahi ke arah obyek yang ditunjukkannya; ia bisa mematikan yang hidup dan menghidupkan yang mati. Untuk tujuan-tujuan lain, air atau batu krikil kecil yang sudah disalurkan padanya Kalimah Allah dapat dipakai sebagai kondensator yang berisi energi Ilahi yang sama. Tentu saja bukan sembarang yang bisa membuat air Tawajuh atau batu sijil tersebut. Itu hanya dapat dilakukan oleh seorang Syeikh Kamil Mukammil, yang sudah meninggal, yaitu Syeikh yang rohaninya sudah mencapai frekuensi sama dengan frekuensi Nur Muhammad yang ada di sisi Allah SWT.

Air Tawajuh tentu bisa dipakai untuk mengobati segala penyakit. Dan menurut pengakuan umum, pengobatan Syeikh Kadirun cukup berhasil. Tetapi sang Syeikh pernah mengaku memakai air dan krikil untuk tujuan spektakuler. Ketika gunung Galunggung meletus dan menimbulkan banyak kerusakan, tahun 1982, Syeikh Kadirun dimintai tolong untuk mengatasi bencana alam ini. Segenggam batu sijjil yang dilemparkan dari sebuah helikopter ke bawah gunung Galunggung, ternyata cukup untuk menghentikan letusannya. Waktu masih ada pemberontakan komunis di Malaysia, Syeikh Kadirun pernah dimintai tolong oleh Datuk Hamzah Abu Sammah, Menteri pertahanan negara tetangga ini untuk membasminya, setelah segala cara lain gagal. Air dan kerikil yang diisi Kalimatullah, sekali lagi ditebarkan dari udara dengan helikopter, berhasil menumpas gerombolan pemberontak di hutan rimba.

Air tawajuh Syeikh Kadirun pernah pula dipakai dalam perang Irak-Iran: selama beberapa tahun, Duta Besar Irak terus meminta bantuan Syeikh Kadirun, dan pada masa itu pasukan Irak memang maju terus.

Baru setelah Duta Besar Irak tersebut digantikan dengan seorang yang tidak percaya pada hal-hal paranormal, Iran mulai meraih kemenangan. Pembebasan kota Kuds (Yerussalem) yang begitu banyak dibicarakan, sebetulnya merupakan masalah sederhana, asal orang Palestina mau memanggil Syeikh Kadirun dan membiayai jasanya ilmu ini bukanlah barang murahan (Not. Kasus-kasus penerapan energi Kalimah Allah ini diceriterakan kepada penulis buku Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia, oleh Syeikh Kadirun sendiri dalam wawancara pada tgl 3-11-1986, lihat catatan kaki no.38, hal.l57). (jaka kelana/ bbs)




"TIDAK KU JADIKAN JIN DAN MANUSIA MELAINKAN UNTUK BERIBADAH KEPADA-KU"

Rabu, 17 April 2013

TAREKAT, TASAWWUF DAN SUFI???


“Setiap nabi yg diutus Allah sebelumku pasti memiliki hawariyun dan para sahabat yg mengikuti sunnahnya serta menapaki ajarannya. Kemudian setelah itu datanglah suatu generasi yg mengatakan apa yg tidak mereka kerjakan dan mengerjakan apa yg tidak diperintahkan. Barangsiapa melawan mereka dgn tangannya maka ia adl mukmin. Barangsiapa melawan mereka dgn lisannya maka ia adl mukmin dan barangsiapa melawan mereka dgn hatinya maka ia adl mukmin. Dan selain itu tidak ada lagi keimanan walaupun sebesar biji sawi.”. Sebagaimana yg telah kita bahas pada edisi terdahulu bahwa disamping apa yg menjadi penilaian oleh dua tokoh imam tasawuf sebagai ajaran yg pada mulanya baik dan sesuai syareat tidak luput pula kemudian tumbuh ajaran kaum shufi yg ekstrem yg bertentangan dgn syareat.

Agama itu hanyalah yg disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan yg disukai itu hanyalah yg dianjurkan Allah dan Nabi serta hamba pilihan-Nya. Setiap perkara yg tidak diperintahakan Allah dan tidak dilakukan oleh rasul-Nya sekalipun bentuknya kelihatan baik dan hebat serta disukai banyak orang ia tetap jelek dan tertolak dalam Dienul Islam yg dibawa oleh Muhammad SAW. Sebab agama ini telah sempurna sebagaimana yg telah Raulullah SAW ajarkan kepada ummatnya.

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan utk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”.

“Apa yg diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yg dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.”.

“Katakanlah ‘Jika kamu mencintai Allah ikutilah aku niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”.

“Hai orang-orang yg beriman janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”.

Dengan memahami secara seksama akan ayat-ayat di atas dan masih banyak lagi tentunya kita sebagai ummat yg beriman mengetahui bahwa kita hanya disuruh utk mengikuti apa yg dijarkan oleh Rasulullah SAW. Maka jika terjadi yg selebihnya itu adl seolah-olah kita tidak mempercayai Atau seolah kita mengkritik bahwa agama ini belum sempurna.
Sesungguhnya telah banyak jika kita mau menengok atau melihat praktek beragama secara berlebih-lebihan yg tidak diperintahkan oleh Rasulullah SAW.
Di antara Praktek Menjalankan Ibadah yg Berlebihan pada Jaman Rasulullah SAW dan Shahabat
Sikap ekstrem atau berlebih-lebihan di dalam beragama dapat kita lihat dalam hal sebagaimana yg akan dilakukan oleh orang-orang yg diceritakan dari Anas bin Malik r.a. bahwa ia berkata “Tiga orang sahabat datang menemui isteri-isteri Rasulullah utk menanyakan tentang ibadah beliau. Setelah diceritakan kepada mereka tentang ibadah Rasulullah mereka menganggapnya terlalu sedikit. Sehingga mereka berkata “Keadaan kita dgn beliau jauh berbeda sesungguhnya Allah SWT telah mengampuni dosa-dosa beliau yg lalu dan yg akan datang!”
Maka salah seorang di antara mereka berkata “Aku akan shalat malam terus-menerus.” Seorang lagi berkata “Aku akan berpuasa terus-menerus tanpa putus.” Yang lain berkata “Aku akan menjauhi kaum wanita dan tidak akan menikah selamanya.”
Lalu datanglah Rasulullah SAW menemui mereka beliau bersabda “Apakah kamu sekalian yg mengucapkan bagini dan begitu!” Demi Allah aku adl orang yg paling takut danpaling bertaqwa kepada Allah! Namun di samping berpuasa aku juga berbuka di samping shalat aku juga tidur dan aku juga menikahi wanita. Barangsiapa membenci sunnahku maka ia bukan termasuk golonganku.”.
Dalam kesempatan lain Rasulullah SAW bersabda “Bagaimana halnya kaum-kaum yg menjauhkan diri dari sesuatu yg kulakukan? Demi Allah aku adl orang yg paling tahu tentang Allah dan paling takut kepada-Nya.”.

Juga sisa-sisa kaum terdahulu yg menjalankan praktek beragama yg berlebih-lebihan masih ada dan berlanjut samapai sekarang dapat kita lihat seperti dalam riwayat “Janganlah kamu memberatkan dirimu sendiri sehingga Allah SWT akan memberatkan dirimu. Sesungguhnya suatu kaum telah memberatkan diri mereka lalu Allah memberatkan mereka. Sisa-sisa mereka masih dapat kamu saksikan dalam biara-biara dan rumah-rumah peribadatan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka.”.
Ya’la bin Umayyah menceritakan “Suatu ketika aku melakukan thawaf besama Umar bin Khaththab r.a. saat kami iba di tiang dekat pintu Ka’bah dan Hajar Aswad aku segera mengusapnya dgn tanganku. Melihat itu Umar pun berkata “Pernahkan engkau melakukan thawaf bersama Rasulullah SAW? “Pernah!” jawabku. “Apakah engkau pernah melihat beliau mengusapnya?” tanyanya lagi. “Tidak pernah!” balasku. Umar pun berkata “Jauhkanlah dirimu dari perbuatan itu cukuplah Rasulullah SAW sebagai teladan yg terbaik bagimua.”
Di antara Praktek Menjalankan Ibadah yg Berlebihan pada Kaum Shufi
Allah SWT telah berfirman yg artinya “Wahai Ahli Kitab janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yg benar.”.
Ajaran tasawuf yg ekstrem ditegakkan atas asas yg bertentangan dgn kaidah-kaidah tesebut. Praktek ibadah yg berlebih-lebihan itu jauh dari nilai sunnah. Bahkan sebaliknya adl bid’ah.
Di antara sikap yg berlebihan dapat dilihat sbb
Asy-Sya’rani berkata “Setiap faqir yg tidak pernah menahan lapar dan tidak menanggalkan pakaian maka ia termasuk pemburu dunia. Ia sama sekali tidak termasuk anggota tarekat tasawuf.”
Asy-Sya’rani menukil ucapan Ahmad Ar-Rifa’i sebagai berikut “Saya sangat senang bila murid selalu menahan lapar tidak memakai baju fakir dan rendah diri.”
Ath-Thusi meriwayatkan dari Abu Ubeid AlBisri bahwa ia berkata “Apabila tiba bulan Ramadhan Abu Ubeid Al-Bisri mengunci pintu rumahnya dan berkata kepada isterinya “Lemarkanlah tiap harinya sepotong roti melalui lubang angin.” Ia pun tidak keluar rumah hinga bulan Ramadhan berakhir. Ketika isterinya memasuki rumah ternyata didapatinya tiga puluh potong roti dalam keadaan utuh belum disentuh di sudut rumah.”

Salah seorang penulis biografi kaum sufi mengisahkan tentang seorang sufi asal India bernama Syah Miyanjii Begh. Konon ia pernah beri’tikaf mulai awal bulan Rajab sampai sepuluh Muharram . Ia menutup pintu tempat I’tikaf dan mengurung diri di dalamnya selama enam bulan tidak makan dan tidak juga minum. Dikabarkan bahwa ia wafat pada tahun 889 H.
Seorang shufi yg sudah popular bernama ‘Ainuddin konon ia meminum khamar siang dan malam.
‘Aun bin Abdullah bin ‘Utbah konon ia selalu mengenakan pakaian sutera.
“Termasuk perkara menakjubkan adl diletakkannya Asma Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung pada cincin emas. Barang siapa mengenakan cincin emas itu niscaya ia akan disegani manusia. Ia akan diagungkan dimuliakan dan tinggi derajat dan pamornya di hadapan manusia hingga akhir hayatnya. Pada hari kiamat nanti ia akan dibangkitkan dalam keadaan aman dari ketergelinciran kala melewati titian Shiratul Mustaqim. Dan akan berat timbangan kebaikannya.”
Coba bandingkan dgn ketentuan syariat yg telah Allah dan Rasul-Nya ajarkan sbb “Telah dihalalkan emas dan sutera bagi kaum wanita dari umatku dan diharamkan atas kaum pria.”
Manakah yg benar? Ocehan kelompok shufi di atas ataukah sabda Rasulullah SAW?
Al-Hajweiri menukil ucapan sbb “Aku menemukan beberapa hikayat tentang seorang ulama syareat yg menguji Asy-Syibli dgn pertanyaan “Apa saja yg dikeluarkan zakatnya?”Asy-Syibli menjawab “Jika kebakhilan merebak dan harta melimpah ruah maka wajib mengeluarkan zakat dua ratus dirham sebanyak lima dirham zakat dua puluh dinar sebanyak setengah dinar itu menurut madzhabmu namun menurut kami selayaknya kamu tidak memiliki apapun sehingga engkau terbebas dari beban zakat!”
Syaikh Muhammad berkata “Jika engkau ingin belajar tarekat maka jadikanlah pakaianmu sebagai serbet bagi kaum fuqara’.” Pesan Syaikh Muhammad itupun dilakukannya. Maka tiap orang yg makan ikan atau sayuran membersihkan tangan mereka dgn bajunya. Hal itu ia lakukan selama satu tahun tujuh bulan sehingga bajunya seperti baju tukang minyak atau baju para gembel. Setelah melihat keadaan bajunya seperti itu barulah Syaikh Muhammad mengajarkan kepadanya wirid dan dzikir.
Dan masih banyak hal-hal yg aneh dan berlebihan yg dilakukan kaum shufi ekstrem.
Di antara Praktek Bid’ah Kaum Shufi
Asy-Sya’rani menulis tentang Umar bin Al-Faridh dia mempunyai sejumlah gadis-gadis yg bernyanyi untuknya hingga membuatnya bergoyang dan gembira. Ia berani membeli mereka dgn harga mahal krn suara mereka yg merdu.
Asy-Sya’rani meriwayatkan dari Abu Hafs Al-Haddad An-Naisaburi yg ditanya “Salah seorang rekanmu berputar-putar mengelilingi majelis as-sama’ . Apabila mendengar as-sama’ ia pasti menangis berteriak histeris dan mengoyak-ngoyak bajunya.” Abu Hafs menjawab “Ia berbuat seperti orang tenggelam yg berpegang kepada apa saja yg dikiranya dapat menyelamatkan dirinya.”

Allah SWT telah menyinggung apa yg dilakukan oleh orang-orang musyrik dgn firman-Nya yg artinya “Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan.”
Ba Yazid Al-Anshari membagi dzikir menjadi beberapa bagian ia berkata “Adapun dzikir Laa Ilaaha Illallah Muhammadur Rasulullah adl dzikir lisan. Dzikir sepeti ini dibolehkan dalam tingkatan syariat. Sementara dzikir Laa Ilaaha Illallah adl dzikir hati hanya dibolehkan jika sudah mencapai tingkatan tarekat. Sedang dzikir Illallah adl dzikir ruh dgn meninggalkan syak wasangka. Hanya dibolehkan jika telah mencapai tingkatan hakekat. Lalu dzikir Allah?Allah termasuk dzikir batin hanya boleh jika sudah mencapai tingkat ma’rifat. Dan dzikir Hu?Hu?adalah dzikir ghaib yg hanya boleh diucapkan bila sudah sampai tingkatan qurbah . Dan dzikir Laa Ilaaha illa anta adl dzikir ghaibul ghaib hanya dibolehkan jika sudah mencapai tingkat al-washlah . Dan terakhir lafzhul jalalah adl dzikir madzkur yg hanya boleh diucapkan jika telah mencapai tingkat al-wihdah .”
Lantas bagaimana dgn sabda Rasulullah SAW yg artinya “Dzikir yg paling utama adl Laa Ilaaha Illallah.”
Rasulullah SAW telah mensabdakan bahwa dzikir yg paling utama itu adl yg demikian. Apakah Rasulullah SAW itu bohong atau menyembunyikan syariat dari Allah?
Maka sungguh Rasulullah SAW telah menyampaikan apa yg harus disampaikan dari Allah SWT.

Dan Allah SWT telah berfirman yg ertinya:
“Katakanlah ‘Aku bukanlah rasul yg pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yg akan diperbuat terhadapku dan tidak terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yg diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yg menjelaskan.”
“Tiadalah Kami alpakan sesuatu apapun di dalam Al-Kitab.”
“Hai Rasul sampaikanlah apa yg diturunkan kepada engkau dari Tuhanmu; dan jika tidak engkau laksanakan maka tidaklah engkau menyampaikan risalah-Nya.”
“Dan telah Kami turunkan kepada engkau peringatan supaya engkau terangkan kepada manusia apa yg diturunkan kepada mereka dan supaya mereka berfikir.”
“Ikutilah semua yg diturunkan Tuhanmu kepadamu dan janganlah kamu ikuti pemmpin-pemimpin selain daripada-Nya tetapi amat sedikit sekali di antaramu yg ingat.”
Selain hal di atas ada juga pelaksanaan dzikir dgn bersama-sama dgn suara yg sangat keras dan menukik telinga bagi yg berada di dekatnya.
Padahal Allah SWT telah memerintahkan dgn firman-Nya yg artinya “Dan sebutlah Rabbmu dalam hatimu dgn merendahkan diri dan rasa takut dan dgn tidak mengeraskan suara.”
Padahal tokoh shufi terkenal Ba Yazid jurstru meriwayatkan dari Rasulullah SAW bahwasanya beliau besabda “Dzikir yg paling utama adl dzikir dgn suara lirih.”
Dan masih banyak lagi hal-hal yg berlebihan dan mengada-ada yg tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Yang Terbaik Adalah Mengikuti Sesuai Petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah

Jika kita adl orang yg mengimanai sabda Rasulullah SAW bahwa akan datang jaman penuh fitnah dan praktek bid’ah maka hendaklah kita termasuk orang yg berusaha menolak dan memeranginya dgn kemampuannya masing-masing serta berhati-hati di dalam menimba ilmu dan mengamalkan syareat.
Maka Al-Qur’an dan As-Sunnah adl sebagai pedoman yg tidak boleh tidak ditinggalkan bagi kaum Muslimin. Siapa saja menemukan praktek ibadah yg bertentangan dengannya tinggalkanlah. Dan siapa saja menjumpai agama ini sesuai dengannya maka ikutilah.
“Dan taatlah kamu sekalian kepada Allah dan taatlah kamu sekalian kepada Rasul dan hati-hatilah kamu krn jika kamu sekalian berpaling maka ketahuilah olehmu sesungguhnya tidak ada kewajiban atas Rasul Kami melainkan menyampaikan pesan yg terang.”

Imam Malik dan Anas meriwayatkan sebuah hadits sbb “Telah sampai kepadanya bahwasanya Rasulullah SAW pernah bersabda yg artinya “Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara tidak akan tersesat kamu selama kamu berpegang teguh dgn kedua-duanya yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.”

Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah SAW pernah bersabda “Tidak akan lenyap sesuatu daripada sunnah sehingga tampaklah yg semisalnya daripada bid’ah sehingga lenyaplah sunnah dan tampaklah bid’ah sehingga dianggap cukuplah bid’ah itu bagi orang yg tidak mengenal sunnah.”
Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah SAW pernah bersabda“Sesungguhnya di masa kemudian aku akan ada peperangan di antara orang-orang yg beriman.” Seorang shahabat bertanya “Mengapa kita memerangi orang-orang yg beriman yg mereka itu sama berkata “Kami telah beriman.” Rasulullah bersabda “Ya krn mengada-adakan di dalam agama apabila mereka mengerjakan agama dgn pendapat fikiran padahal di dalam agama itu tidak ada pendapat fikiran. Sesungguhnya agama itu dari Tuhan perintah-Nya dan larangan-Nya.”
Disadur dari
    Tasawuf Bualan Kaum Sufi ataukah Sebuah Konspirasi Dr. Ihsan Ilahi Zhahir
    Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah K.H. Moenawar Chalil
    Al-Islam Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
    sumber file al_islam.chm

Isnin, 15 April 2013

SEDEKAH???


RASULULLAH NABI MUHAMMAD S.A.W
Bersabda :
“Ubatilah SAKIT kamu dengan BERSEDEKAH, 
Pelihara HARTA-BENDA kamu dengan BERZAKAT dan hindarilah BALA dengan BERDOA.”

H.R.dH : Syaikh Al-Albani rahimahullah ( Shahihul Jami’)