IN THE NAME OF ALLAH, MOST GRACIOUS, MOST MERCIFUL

All types of perfect praise belong to Allah alone The Lord of all the worlds Most Gracious, Ever Merciful Master of the Day of Judgement Thee alone do we worship and Thee alone do we implore for help Guide us along the straight path-the path of those on whom Thou hast bestowed Thy favours, those who have not incurred Thy displeasure and those who have not gone astry

Allah
is He save whom none is worthy of worship, the Ever-Living, the Self-Subsisting and All-Sustaining. Slumber seizes Him not, nor sleep. To Him belongs whatsoever is in the Heaven and whatsoever in the earth. Who is he that dareintercede with Him, except by his permission? He knows all that is before them and all that is behind them, and they cannot compass aughtof His knowledge, except that which He please. His knowledge extends over the heavens and the earth, and the care of them wearis Him not. He is the Most High, the Most Great

The Messenger
has full faith in that which has been sent down to him from his Lord and so have the believers: all of them believe in Allah, and His angels, and in His Books and in His Messengers, affirming : we make no distinction between any of of His Messengers; we have heard Allah’s command and we have submitted ourselves wholly to Him.They supplicate: We implore Thy forgiveness, Lord, and to Thee is our return.Allah requires not of any one that which is beyond his capacity; each shall have the benefit of the good he does and shall suffer the consequences of the ill he works. Supplicate, therefore: Lord, take us not to task if we forget or fall into error; Lord place us not under responsibility in the manner of those whom Thou didst place under responsibility before us; Lord, burden us not with that which we have not strength to bear; overlook our defaults and grant us forgiveness and have mercy on us; Thou art our master, so grant us succour against those who reject thee.


“Surely, We ourself have sent down this Exhortation, We will, most surely, safeguard it.” (Al-Hijr : 9)

“I Perfected your religion for your benefit, and have completed My favour unto you, and have chosen for you Islam as your faith.”(Al-Maidah :3)

“Have
We not expanded thee thy breast?. And removed from thee thy burden. The which
did gall thy back? And raised high the esteem (in which) thou (art held)? So,
verily, with every difficulty, there is relief. Verily, with every difficulty
there is relief. Therefore, when thou art free (from thine immediate task),
still labour hard, And to thy Lord turn
(all) thy attention.”
(Al-Insyirah-As-Syarh.)

Proclaim: He is Allah, the Single; Allah, the Self-Existing and Besought of all. He begets not, nor is He begotten; and there is none equal to Him in His attributes(Al-ikhlash)

Proclaim: I seek the protection of the Lord of the break of dawn, from the mischief of every created thing, from the mischief of the darkness when the moon is eclipsed, from the mischief of those who seek to promote discord, and from the mischief of every persistently envious person.(al-Falaq)

Proclaim: I seek the protection of the Lord of mankind, the King of mankind, the God of mankind, against the mischief of every sneaking whisperer, who whispers into the mind of people, whether he (Jin)behidden from sight or be one of the common people.(an-Naas)

Proclaim : Hearken ye who disbelieve! ! I don not worship as you worship, nor do you worship as I worship. I do not worship those that you worship, nor do you worship Him Whom I worship; that is because you follow one faith and I follow another faith.(Al-Kaafiruun)


KHUTBAH TERAKHIR RASULULLAH NABI MUHAMMAD S.A.W

Khutbah Terakhir Nabi Muhammad SAW
9 ZULHIJJAH TAHUN 10 HIJRAH, DI LEMBAH URANAH, GUNUNG 'ARAFAH

"Wahai manusia dengarlah baik-baik apa yang hendak ku katakan !!! Aku tidak mengetahui apakah aku dapat bertemu lagi dengan kamu semua selepas tahun ini. Oleh itu dengarlah dengan teliti kata-kataku ini dan sampaikanlah ia kepada orang-orang yang tidak dapat hadir di sini pada hari ini.

Wahai manusia, sepertimana kamu menganggap bulan ini dan kota ini sebagai suci maka anggaplah jiwa dan harta setiap orang Muslim sebagai amanah suci. Kembalikan harta yang diamanahkan kepada kamu kepada pemiliknya yang berhak.

Janganlah kamu sakiti sesiapapun agar orang lain tidak menyakiti kamu pula. Ingatlah bahwa sesungguhnya kamu akan menemui Tuhan kamu dan Dia pasti akan membuat perhitungan atas segala amalan kamu. Allah telah mengharamkan riba', oleh itu segala urusan yang melibatkan riba' hendaklah dibatalkan mulai sekarang.

Berwaspadalah terhadap syaitan demi keselamatan agama kamu. Dia telah berputus asa untuk menyesatkan kamu dalam perkara-perkara besar maka berjaga-jagalah supaya kamu tidak mengikutinya dalam perkara-perkara kecil.

Wahai manusia, sebagaimana kamu mempunyai hak atas para isteri kamu, mereka juga mempunyai atas kamu. Sekiranya mereka menyempurnakan mereka ke atas kamu maka mereka juga berhak untuk diberi makan dan pakaian dalam suasana kasih sayang.

Layanilah wanita-wanita kamu dengan baik! dan berlemah lembutlah terhadap mereka kerana sesungguhnya mereka adalah teman dan pembantu kamu yang setia. Dan hak kamu ke atas mereka ialah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang kamu tidak sukai ke dalam rumah kamu dan dilarang melakukan zina.

Wahai manusia, dengarlah bersungguh-sungguh kata-kataku ini. Sembahlah Allah, dirikanlah solat lima kali sehari, berpuasalah di Bulan Ramadhan, tunaikanlah zakat dan harta kekayaan kamu dan kerjakanlah ibadah haji sekiranya mampu.

Ketahuilah bahawa setiap Muslim adalah saudara kepada Muslim yang lain. Kamu semua adalah sama; tidak ada seorangpun yang lebih mulia dari yang lainnya kecuali dalam taqwa dan amal soleh.

Ingatlah bahawa kamu akan mengadap Allah pada suatu hari untuk dipertanggungjawabkan atas segala apa yang telah kamu lakukan. Oleh itu, awasilah tindak-tanduk kamu agar jangan sekali-kali kamu terkeluar dari landasan kebenaran selepas ketiadaanku.

Wahai manusia, tidak ada lagi Nabi atau Rasul yang akan datang selepasku dan tidak akan lahir agama baru. Oleh itu wahai manusia, nilailah dengan betul dan fahamilah kata-kataku yang telah disampaikan kepada kamu.

Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua perkara yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya nescaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah Al-Quran dan Sunnahku.

Hendaklah orang-orang yang mendengar ucapanku ini menyampaikannya pula kepada orang lain dan hendaklah orang yang lain itu menyampaikannya pula kepada orang lain dan begitu seterusnya.

Semoga orang yang terakhir yang menerimanya lebih memahami kata-kataku ini dari mereka yang mendengar terus dariku. Saksikanlah Ya Allah, bahawasanya aku telah sampaikan risalah-Mu kepada hamba-hamba- Mu. "

"Dan, Ingatlah... hanya dengan mengingati Allah... hati akan menjadi tenang."


“Semoga ALLAH
melindungiku dari keburukan dan kejahatan kamu serta melindungi kamu dari
keburukanku dan kejahatanku... Semoga Allah melindungimu dari kemurkaan-Nya dan
neraka-Nya... Semoga Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, melindungi
kita semua dari Azab Neraka, Azab Kubur, Fitnah-fitnah kehidupan dan kematian,
Fitnah-fitnah Dajjal laknatullah, Fitnah-fitnah Syaitan jin dan manusia dann
seluruh fitnah-fitnah dosa-dosa silam kita...
Dan, Semoga Allah
memberkati kamu dan mengampuni segala dosa kamu dan sesiapa pun yang bersama
kamu buat selama-lamanya... amin”

CUKUPLAH ALLAH SEBAGAI WAKILKU ATAS SEGALA URUSAN. TIADA DAYA UPAYA DAKU
MELAINKAN DENGAN KEKUASAAN ALLAH YANG MAHA AGUNG, YANG TIADA TUHAN YANG
DISEMBAH MELAINKAN ALLAH SEMATA-MATA.MAHA SUCI ALLAH, SEGALA PUJI BAGI ALLAH,
TIADA TUHAN YANG DISEMBAH MELAINKAN ALLAH DAN ALLAH MAHA BESAR.

:: ISLAM ::

:: ISLAM ::
"Sesungguhnya Matahari, Bulan, Bumi dan Langit dan Bintang, terdapat tanda-tanda KeIslaman makhluk kepada ALLAH dan menjadi tanda Kebesaran dan Kekuasaan ALLAH, Tuhan seluruh alam, bagi mereka yang berfikir dengan akal dan Iman." IMAM MUHAMMAD JIBRIL AL-KHAIR B.A

SKROL UNTUK UMAT ISLAM

DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG SEGALA PUJI BAGI ALLAH, TUHAN SELURUH ALAM SALAWAT DAN SALAM KE ATAS RASULULLAH NABI MUHAMMAD S.A.W ”SESUNGGUHNYA AKU BERSAKSI BAHAWA TIADA TUHAN YANG PATUT DISEMBAH SELAIN ALLAH DAN MUHAMMAD ITU RASULULLAH.” ASSALAAMUALAIKUM WARAHMATULLAHI WAL BARAKAATU WAHAI SAUDARA KU, UMAT ISLAM BERTAKWALAH KEPADA ALLAH, TUHAN SELURUH ALAM INI SESUNGGUHNYA AKU MENYERU KAMU DENGAN NAMA ALLAH DAN RASUL-NYA NABI MUHAMMAD S.A.W BERPEGANGLAH KEPADA DUA PERKARA IAITU KITABULLAH AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH NABI MUHAMMAD S.A.W SESUNGGUHNYA AKU BERIMAN KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA, MALAIKAT-MALAIKATNYA, KITAB-KITABNYA, HARI AKHIRAT DAN SEGALA QADA’DAN QADAR ITU DARI ALLAH SEMATA-MATA. WAHAI SAUDARA KU, UMAT ISLAM BERSYAHADAHLAH DAN PATUHI DENGAN SABAR DAN REDHA AKAN PERSAKSIAN MU ITU, TUNAIKAN SOLAT FARDHU PADA WAKTUNYA, BERPUASALAH SEBULAN DI BULAN RAMADHAN, KELUARKAN ZAKAT DARI HARTA-HARTA YANG ALLAH PINJAMKAN KEPADA KAMU DAN TUNAIKAN HAJI APABILA KAMU MAMPU. INGATLAH SEMUA ITU LAKUKANLAH DENGAN IHSAN YAKNI KAMU MELAKUKAN IBADAH ITU SEOLAH-OLAH ALLAH MELIHAT KAMU DAN KAMU MELIHAT ALLAH. DAN, BERIKHLASLAH DALAM BERAGAMA AGAR KAMU SELAMAT DI DUNIA DAN DI AKHIRAT. WAHAI SAUDARA KU, UMAT ISLAM ISLAMLAH DENGAN KEISLAMAN YANG MENYELURUH NESCAYA KAMU SELAMAT. SESUNGGUHNYA AGAMA ISLAM INI ADALAH SATU-SATUNYA JALAN YANG MENJADIKAN KAMU DIREDHAI ALLAH DAN BERSATU SEBAGAI UMAT ISLAM YANG SELAMAT DI DUNIA DAN DI AKHIRAT. JANGANLAH KAMU MEMILIH JALAN SELAIN ISLAM ATAU KAMU AKAN ROSAK BINASA DAN DIMURKAI ALLAH. WAHAI SAUDARA KU, UMAT ISLAM BERSATULAH KAMU SEMUA DI BAWAH SATU KALIMAH IMAN. TEGAKKAN BENDERA ISLAM AL-LIWA’ DAN AR-RAYAH. BERHUKUMLAH DENGAN HUKUM ALLAH ATAU KAMU DIPANDANG ALLAH SEBAGAI KAFIR KEPADA-NYA JANGANLAH KAMU KAFIR KEPADA ALLAH DAN JANGANLAH KAMU MENJADI MUNAFIK KERANA BERTUHANKAN NAFSU DIRI YANG MEMBINASA. DAN JANGANLAH KAMU MATI KECUALI DALAM ISLAM. WAHAI SAUDARA KU, UMAT ISLAM AMALKAN SUNNAH NABI YANG DIAJARKAN KEPADA KAMU MELALUI HADIS-HADIS NABI MUHAMMAD S.A.W YANG DISAMPAIKAN KEPADA MU OLEH ULAMA-ULAMA YANG TAKUT KEPADA ALLAH DAN YANG BERAMAL DENGAN SUNNAH NABI MUHAMMAD S.A.W SERTA TINGGALKANLAH SELAIN YANG DEMIKIAN ITU WAHAI SAUDARA KU, UMAT ISLAM CUKUPLAH ALLAH SEBAGAI WAKIL BAGI KU ATAS SEGALA URUSAN. KEPADA-NYA KITA SEMUA BERTAKWA DAN BERTAWAKKAL SESUNGGUHNYA TIADA DAYA DAN UPAYA MELAINKAN KEKUATAN DAN PERTOLONGAN ALLAH YANG MAHA AGUNG LAGI MAHA MULIA. SEMOGA ALLAH MENGHIMPUNKAN KITA SEMUA DALAM KEBAIKAN DAN KESELAMATAN DI DUNIA DAN DI AKHIRAT. AMIN SESUNGGUHNYA PERUTUSAN INI DARIPADAKU IMAM MUHAMMAD JIBRIL AL-KHAIR B.A HAMBA ALLAH

CUKUPLAH ALLAH SEBAGAI WAKILKU ATAS SEGALA URUSAN. TIADA DAYA UPAYA DAKU MELAINKAN DENGAN KEKUASAAN ALLAH YANG MAHA AGUNG, YANG TIADA TUHAN YANG DISEMBAH MELAINKAN ALLAH SEMATA-MATA.MAHA SUCI ALLAH, SEGALA PUJI BAGI ALLAH, TIADA TUHAN YANG DISEMBAH MELAINKAN ALLAH DAN ALLAH MAHA BESAR.

SKROL BUAT UMAT KRISTIAN

DENGAN

NAMA ALLAH

YANG MAHA PENGASIH LAGI

MAHA PENYAYANG

SESUNGGUHNYA PERUTUSAN INI DARIPADAKU :

“SESUNGGUHNYA AKU BERSAKSI BAHAWA

TIADA TUHAN YANG DISEMBAH MELAINKAN ALLAH S.W.T

DAN

NABI MUHAMMAD S.A.W ITU PESURUH-NYA”

SEGALA PUJI BAGI ALLAH, TUHAN SELURUH ALAM.

KESELAMATAN BAGI MEREKA YANG MENGIKUT CAHAYA PENTUNJUK

AMMA BA’DU

WAHAI UMAT KRISTIAN

Aku memuji Allah SWT untukmu dan aku bersaksi bahawa Nabi Isa a.s ( Jesus ) adalah Roh Allah SWT dan Kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam yang tidak pernah kahwin, yang suci, baik dan terjaga. Ia telah mengandungkan Isa a.s lalu Allah SWT menciptakan dari Roh-Nya dan tiupan-Nya sebagaimana Dia telah menciptakan Adam a.s dengan tangan-Nya dan tiupan-Nya.

Aku berdoa kepada Allah SWT semata, yang tiada sekutu bagi-Nya dan berserah diri dan taat kepada-Nya. Hendaklah kamu mengikuti Muhammad Rasulullah SAW, beriman kepadanya dan apa-apa yang telah datang kepadanya sepertimana para Rasul dan para Nabi Allah SWT sebelum baginda Rasulullah SAW.

Sesungguhnya aku menyeru kamu dengan seruan Islam dan Allah SWT akan mendatangkan padamu dua kali pahala di dunia dan di Akhirat yang kekal abadi selamanya. Maka apabila kamu berpaling maka kamu kuserahkan kepada Allah SWT, Tuhan seluruh alam ini.

Yakni ,

Allah SWT,

tiada Tuhan selain-Nya yang hidup kekal dan berkuasa dengan sendiri-Nya.Tiada mengantuk dan tiada pula tidur, kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at dan pertolongan di sisi Allah SWT tanpa izin-Nya? Allah SWT mengetahui apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka dan mereka hanya dapat mengetahui sedikit sahaja dari ilmu Allah SWT dengan kehendak-Nya. Qursyi-Syiar Allah SWT itu meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara kedua-duanya. Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Marilah kita berpegang teguh pada satu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu. Bahawa tidak kita sembah kecuali Allah SWT dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu apa pun selain-Nya. Tidak pula sebahagian kita menjadikan sebahagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah SWT.

KETAHUILAH !

AGAMA YANG BENAR DI SISI ALLAH, TUHAN SELURUH ALAM HANYALAH ISLAM DAN BARANG-SIAPA YANG MEMILIH SELAIN ISLAM SESUNGGUHNYA DIA TELAH RUGI DI DUNIA DAN DI AKHIRAT. SESUNGGUHNYA TELAH TERANG DAN JELAS KEPADA KAMU YANG MANA SALAH YANG MANA BETUL. ISLAMLAH NESCAYA KAMU SELAMAT... SEKIRANYA KAMU BERPALING MAKA SAKSIKANLAH BAHAWA KAMI ADALAH ORANG-ORANG ISLAM YANG BERSERAH DIRI KEPADA ALLAH SWT.

IKHLAS DARI

IMAM MUHAMMAD JIBRIL AL-KHAIR B.A

PANDUAN

PANDUAN
KIBLAT WAKTU SOLAT DAN INFO LAIN

:: SUMPAH DAN DOA ::


DENGAN NAMA ALLAH
YANG MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG
SEGALA PUJI BAGI ALLAH , TUHAN SEMESTA ALAM
SALAWAT DAN SALAM KEPADA NABI MUHAMMAD S.A.W
DENGAN INI
SESIAPA PUN DARI KALANGAN MANUSIA DAN JIN YANG BERNIAT DAN BERBUAT
ZALIM KE ATAS BLOG INI. AKU SUMPAH DAN
AKU BERDOA, SEMOGA ALLAH MELUMPUHKAN TANGANNYA YANG MELAKUKAN KEZALIMAN APA
SAHAJA ITU KE ATAS BLOG INI. SUMPAH DAN
DOA INI BERLANDASKAN HAK ORANG YANG DIZALIMI.
SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK SUKA KEPADA PENZALIM-PENZALIM.
CUKUPLAH ALLAH SEBAGAI WAKILKU ATAS SEGALA URUSAN. TIADA DAYA DAN UPAYA MELAINKAN
KEKUASAAN ALLAH YANG MAHA AGUNG.
SALAWAT DAN SALAM KEPADA NABI MUHAMMAD S.A.W
DAN AHLUL-BAIT DAN PARA SAHABAT R.A
SEGALA PUJI BAGI ALLAH , TUHAN SEMESTA ALAM
KUN FAYA KUN
AMIN

The Alien - Link Select

Khamis, 18 Ogos 2011

BIDAAH DI BULAN RAMADHAN!!!


Selepas selesai menunaikan pelbagai ibadat sepanjang bulan Ramadan yang mulia, terutama ibadat puasa, yang merupakan rukun Islam, ada beberapa perkara yang kita perlu perbetulkan pada Ramadan yang akan datang, jika kita diberi peluang bertemu dengannya lagi, antaranya:

1. Memenuhkan awal Ramadan, meninggalkan akhir Ramadan

biasanya kita memenuhkan masjid dan surau pada awal Ramadan kerana seronok menyambut ketibaan Ramadan
tetapi pada hujung2 Ramadan banyak yang tidak ke masjid lagi malah akan meninggalkan tarawih kerana sibuk membuat kuih
dan persiapan raya yang lain seperti menghias rumah, membetulkan tempat letak peralatan2 rumah, membasuh cadar, langsir dst…

yang memberikan alasan letih bekerja, tidak sihat, tidak ada masa, banyak kerja lain, banyak program yang perlu disudahkan, banyak jemputan rasmi berbuka puasa yang perlu dipenuhi dan sebagainya…

sepatutnya kita memenuhkan akhir Ramadan sama seperti kita memenuhkan awal Ramadan dengan pelbagai amalan sebab yang demikian itu adalah amalan Nabi s.a.w. seperti disebut dalam hadis… pada sepuluh malam yang terakhir Nabi s.a.w. selalunya meninggalkan tempat tidur, meninggalkan bersama isteri dan membanyakkan ibadat sehingga santak
ke waktu sahur…..

Nabi s.a.w. sentiasa memenuhkan Ramadan keseluruhannya dengan membanyakkan amalan dari mula masuknya Ramadan hinggalah ke malam terakhir Ramadan, tanpa membezakan awal atau akhir Ramadan. Para Sahabat juga berbuat demikian, mengurangkan tidur dan membanyakkan amalan sepanjang bulan yang mulia itu.

Tidak salah memenuhi jemputan rasmi, atau banyak bekerja, atau program yang perlu disudahi, tetapi amalan pada bulan puasa tidak boleh dikurangkan sehingga ke tahap minima atau ditinggalkan terus hanya kerana perkara2 yang lain yang menyibukkan kita daripada membanyakkan beribadah sunat khusus pada bulan yang mulia ini.

Melakukan kerja2 rutin harian seperti itu pun adalah ibadah juga, tetapi ia adalah muamalah yang digalakkan, bukannya ibadah sunat khusus yang dituntut agar dibanyakkan pada bulan Ramadan ini

2. Bersolat tarawih sebanyak mungkin

biasanya kita di Malaysia dan beberapa tempat lain di dunia Islam, umat Islam hanya melakukan solat tarawih sebanyak
8 rakaat saja, diikuti oleh solat witir sebanyak 3 rakaat, atas alasan Nabi s.a.w. tidak melakukan solat tarawih bersama para memang malas beribadat, termasuk pada bulan Ramadan (sebab dah terbiasa malas).
Malah JAIS sendiri pernah mengeluarkan pekeliling yang mengarahkan masjid2 di seluruh negeri Selangor agar melakukan
solat tarawih tidak lebih dari 8 rakaat dan disertakan dengan tazkirah selepas solat tarawih, sebelum solat witir.

Tidak tahulah sama ada sekarang ini arahan itu sudah ditarik balik atau tidak. Kita tidak berminat mengambil tahu tentang hal itu.

Kalau sudah ditarik balik arahan itu, alhamdulillah.

Memang hadis itu sahih kerana riwayatnya amat jelas, hukumnya juga jelas, tidak boleh dipertikaikan lagi. Cuma dari segi tafsirannya, kehendaknya dan huraiannya saja yang kita perlu fahami benar2, agar tidak tersalah hukum atau tersalah ijtihad.

Entah dari mana hukum yang mereka gunakan, dari kitab mana yang mereka rujuk dan dari ulama muktabar mana yang mereka pegang ijtihadnya, tidaklah diketahui.

sepatutnya kita membanyakkan ibadat sahaja pada bulan Ramadan ini tanpa mengira berapa rakaat solat tarawih itu hendak didirikan. Bukan soal 8 atau 20 yang jadi isu, tetapi sikap kita yang malas itulah yang perlu dikikis. Dalam kitab Fiqh 4 Mazhab pun disebutkan bahawa 3 mazhab (Syafie, Hambali, Hanafi) menjadikan ijmak 20 rakaat solat tarawih, manakala mazhab Maliki pula menjadikan ijmak 36 rakaat solat tarawih pada setiap malam. Tidak ada seorang pun ulama muktabar yang pernah membincangkan bahawa solat tarawih itu 8 rakaat, dan selebihnya adalah bidaah. Malah pemerintah Wahabi di Arab Saudi sekarang pun masih mengamalkan solat tarawih sebanyak 20 rakaat di Masjidil Haram dan Masjidin Nabawi seperti yang dapat kita lihat dalam siaran langsung solat tarawih dari Masjidil Haram yang disiarkan di tv. Jadi, golongan yang menyuruh kepada 8 rakaat solat tarawih itu sebenarnya mengikut mazhab mana dan ulama muktabar yang mana?

Apakah semata-mata mengambil mafhum dari hadis yang diriwayatkan itu sahaja? Tidak mahu merujuk kepada ijmak ulama dahulu?

Hendak kata ulama dahulu tidak faham maksud hadis itu, atau tidak pernah terjumpa matan hadis itu, amatlah mustahil kerana semua orang dari semua zaman sudah tahu tentang matan hadis itu.

Mazhab mana yang mereka pegang dan ikut, tidaklah diketahui sampai sekarang.
Syiah sendiri melaksanakan solat tarawih sebanyak 50 rakaat setiap malam.

Tidak ada walau satu hadis pun yang menyatakan secara tepat bahawa solat tarawih itu hanya 8 rakaat sahaja dan tidak boleh lebih dari itu. Sepatutnya ibadat sunat seperti solat tahajud, tarawih dan lain2 yang tidak pernah dinyatakan had bilangannya, buatlah seberapa banyak pun, tidak akan ada bidaah dalam melaksanakannya.

Bagaimana pula dengan para Sahabat dahulu yang menunaikan solat tahajud sampai seribu rakaat semalaman, kebanyakan mereka pula yang melaksanakan sehingga 500 rakaat setiap malam, dan hampir semua Sahabat melaksanakan sehingga 200 rakaat setiap malam, apakah mereka itu akan kita kata bidaah juga atas alasan ia tidak pernah dibuat begitu oleh Nabi s.a.w.?
Oleh itu, marilah kita melaksanakan semula solat tarawih sebanyak 20 rakaat seperti sebelum ini, kerana ia telah disebut dan dibincang oleh sekalian ulama yang besar2 dan alim2 secara jelas dan terang benderang.

Tinggalkan terus persoalan bidaah 20 rakaat itu kerana ia hanya membuang masa dan melawan ijmak ulama yang muktabar
Malah sewaktu Sayidina Umar Al-Khattab memerintahkan solat tarawih itu dilaksanakan sebanyak 20 rakaat dan diimamkan
oleh seseorang bagi kaum lelaki dan seorang lagi imam bagi kaum wanita, Sayidatina Aisyah r.a. sendiri tidak pernah membantah
atau menyatakan bidaah, malah beliau sendiri ikut bersolat sebanyak 20 rakaat seperti yang disunnahkan oleh Sayidina Umar.

Walhal beliau adalah orang yang paling dekat dengan Nabi s.a.w. semasa hayatnya dahulu
Tidak ada seorang Sahabat pun yang diriwayatkan pernah membantah atau membangkang, malah semuanya setuju melaksanakannya di masjid masing2 mengikut jumlah yang telah ditetapkan oleh Khalifah Umar itu.

Bukankah perintah dan amalan para Khulafa itu dikira sebagai sebahagian sunnah? Terlalu jelas bahawa amalan solat tarawih sebanyak 20 rakaat itu adalah amalan yang dimulakan oleh Khalifah Umar, salah seorang khulafa yang berempat, kenapa dinafikan pula?

Apakah kita hendak melawan sunnah Khulafa dengan menggunakan sunnah Nabi s.a.w.?

Sedangkan amalan solat tarawih sebanyak 20 rakaat itu adalah untuk kebaikan semua umat!

Dari Abu Hurairah r.a berkata: “Adalah Rasulullah SAW menggalakkan qiyamullail (solah malam) di bulan Ramadhan tanpa memerintahkan secara wajib, baginda bersabda: “Sesiapa yang solah malam di bulan Ramadhan kerana beriman dan mengharapkan pahala daripada Allah, maka diampuni baginya dosa yang telah lalu.”

Dalam hadith disebut sembahyang malam dan bukannya sembahyang Tarawih. Rasulullah saw telah mempercepatkan sembahyang malamnya (tahajjud) sebanyak lapan rakaat bagi memenuhi malam pada bulan Ramadhan. Pada malam-malam Ramadhan, Rasulullah saw sembahyang Tahajjud sebanyak 8 rakaat selepas Isyak hinggalah hampir waktu Subuh, barulah Baginda berhenti untuk bersahur.
Sayyidina Umar bimbang umat tidak mampu melakukan sembahyang malam yang lama seperti Rasulullah, maka dilakukan Sembahyang Tarawih sebanyak 20 rakaat (yang lebih pendek masanya) bagi memenuhi malam-malam Ramadhan. Saiyidina Umar berkata: “Amalan ini satu perbuatan bid’ah yang baik”. Namun sebenarnya ia bukanlah bidaah kerana mengikut Kitab Akidah yang besar iaitu Kitab Nibras, “Bidaah itu ialah tiap-tiap sesuatu perkara agama yang lahir selepas zaman sahabat nabi yang tiada dalil syarak”. Selain itu kita juga adalah Ahli Sunnah Wal Jamaah, sunnah dari Nabi dan Jamaah itu dari para sahabat Nabi.

Sembahyang Tarawih yang telah dipilih dan diamalkan oleh jumhur ulama’ dari kalangan mazhab Syafi’i, Hanafi dan Hanbali ialah dua puluh rakaat berdasarkan amalan sahabat-sahabat Nabi dalam zaman Saiyidina Umar r.a. Dari Al-Sa’ib bin Yazid r.a, katanya: “Mereka (sahabat-sahabat Nabi) biasanya mengerjakan sembahyang tarawih dalam bulan Ramadhan – pada zaman Saiyidina Umar bin al-Khattab, sebanyak dua puluh rakaat.

Sembahyang Tarawih bermaksud rehat, kalau 8 rakaat yang laju bagaimana hendak berehat?
shalat tarawih itu seringkali dihubung-hubungkan dengan umar bin khattab ra. Hal ini dikarenakan adanya gagasan dari beliau untuk mengumpulkan orang-orang agar melaksanakan shalat tarawih dengan satu
imam dan imam yang ditunjuk oleh beliau pada ketika itu adalah sahabat ubay bin ka’ab. Dalam hal ini imam bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari abdur rahman bin abdul qori dimana beliau berkata :
“pada suatu malam di bulan ramadhan aku keluar bersama umar bin khattab, maka kami melihat orang-orang terbagi dalam beberapa kelompok. Yakni mereka melakukan shalat dalam kelompok-kelompok yang terpisah. Ada yang shalat sendirian dan ada juga yang shalat bersama sejumlah orang. Menyaksikan pandangan itu sahabat umar bin khattab berkata : “saya berpendapat bahwa sekiranya orang-orang ini saya
kumpulkan dibelakang seorang qori’ (imam yang bagus bacaannya), mak itulah yang lebih utama”. Kemudian beliau mematangkan rencananya itu dan selanjutnya mengumpulkan orang-orang (untuk shalat berjamaah) dibelakang ubay bin ka’ab”. Perawi hadits ini berkata : Kemudian pada malam berikutnya saya keluar lagi bersama umar bin khattab dan orang-orang pada waktu itu terlihat shalat berjama’ah dibelakang seorang qori’. Maka berkatalah umar : “inilah sebaik-baik bid’ah!” (hr. Bukhari)

3. Melaksanakan tazkirah atau usrah atau seumpamanya antara solat tarawih dan solat witir

biasanya kita lihat sekarang ini semacam sudah menjadi trend antara solat tarawih dengan solat witir diadakan kuliah agama oleh orang2 tertentu, baik yang dilantik oleh pihak masjid mahupun oleh individu itu sendiri. Seperti disebutkan tadi, pihak JAIS sendiri telah mengeluarkan pekeliling yang menyuruh diadakan tazkirah dan ceramah antara solat tarawih dengan solat witir.
Banyak pro dan kontra tentang hal ini dari banyak pihak, atas pelbagai alasan dan logik yang dapat diberikan. Antaranya ada
yang berkata tazkirah itu mengganggu fokus mereka kepada ibadat tarawih, tidak menepati roh Ramadan, menghilangkan rasa
seronok semasa beribadat, isi tazkirah lari dari tajuk, seperti menyentuh soal peribadi orang, cenderung kepada parti politik tertentu, memburuk-burukkan pihak lain dan sebagainya. sepatutnya kita kena faham bahawa ini bulan Ramadan, ia bulan khusus untuk umat Islam beribadat, bukannya bulan untuk
mendengar tazkirah, ceramah dan usrah. Walaupun ia disampaikan tidak panjang, ia tetap tidak sesuai pada bulan Ramadan.

Kalau hendak juga buat tazkirah, buatlah pada waktu siang, seperti selepas usai solat subuh, pada waktu duha, selepas solat zuhur atau selepas solat asar. Kalau mahu juga dibuat pada waktu malam, buatlah selepas berbuka, antara waktu maghrib dengan isyak.

Tazkirah itu sememangnya bagus dibuat, sebab menuntut ilmu itu dituntut agama, hanya masanya dan tempatnya biarlah betul.

Tidak ada siapa pun yang mengatakan tazkirah itu sebagai bidaah atau makruh atau haram, cuma dpertikaikan dari segi masa, tempat dan cara ia disampaikan. sebagai orang yang berilmu kita sepatutnya sudah amat faham tentang kesesuaian masa, tempat, keadaan dan hadirin yang mendengarnya. Janganlah jadi golongan yang hanya tahu menyampaikan tetapi tidak mahu memahami khalayak dan suasana penerimaan para hadirin.

Surah Al-Qadar sendiri menyatakan balasan pahala yang 1000 bulan itu hanya didapat oleh orang yang beramal ibadat sahaja, tidak disebut akan didapat oleh orang2 yang belajar atau mendengar tazkirah walaupun dibuat sepanjang malamnya.

Apakah kita hendak juga menjadikan tazkirah itu sebagai alasan membenarkan segala perbuatan kita?
Tarawih itu diberi nama begitu kerana pada sunnahnya (para Sahabat dan tabiin) mereka akan berehat selepas 4 rakaat (2 salam) selama 15 minit atau 20 minit. Jika di Masjidil Haram, mereka akan melakukan tawaf pada waktu itu, dan menyambung semula solat tarawih selepas usai melaksanakan tawaf 7 kali pusingan, manakala di Masjidin Nabawi para Sahabat akan membaca Quran sekitar 1 juz atau setengah juz pada waktu rehat tersebut. Ulama Wahabi di Masjidil Haram sekarang tidak lagi menjadikan tawaf sebagai amalan antara 4 rakaat tarawih, hanya solat tarawih terus-menerus. Ada Sahabat yang tidur seketika untuk melepaskan lelah, ada yang makan atau minum dan sebagainya. Khalifah Umar membiarkan para Sahabat berbuat apa sahaja dalam waktu ‘tarawih’ itu. Waktu ‘rehat’ mereka itu tidak pernah diganggunya dengan mendengar tazkirah atau usrah. Tidak ada disebutkan bahawa Sayidina Umar pernah mengadakan tazkirah pada waktu rehat tersebut.

Mengadakan tazkirah dan usrah seperti itu tidak ada dalam sunnah Nabi s.a.w. dan sunnah para Khulafa dan tidak ada seorang pun ulama muktabar yang membincangkan tentang hal itu. Yang ada ialah masing2 menyuruh melipatgandakan amal ibadat pada bulan ini, bukannya disuruh mendengar tazkirah. Memanglah mengajar dan belajar ilmu itu baik, sangat dituntut.

Tetapi membuatnya dalam keadaan umat disuruh sangat2 beribadat merupakan suatu hal yang tidak betul cara, masa dan tempat. Andaian beberapa golongan bahawa mencari ilmu pada bulan Ramadan lebih baik dari tidur adalah andaian yang salah sama sekali! Tidak pernah ada mana2 ulama dahulu yang berkata
bahawa belajar dalam bulan Ramadan lebih baik dari tidur, dengan alasan kalau tidur pun boleh dapat pahala, belajar lagi banyak pahala yang dia akan dapat. Salah! Sebab banyak hadis yang menyatakan tidur orang yang puasa tidak sama nilainya dengan tidur orang yang tidak puasa. Orang yang tidur pada bulan puasa itu letih sebab 3 perkara, iaitu:

(1) tidur kerana kelaparan dan kehausan disebabkan panas cuaca atau panjang masa bertahan dari makan dan minum

(2) keletihan sebab telah beribadah hampir sepanjang malam pada waktu malamnya, sebab itulah dia mengantuk dan tertidur

(3) ia sengaja tidur dengan tujuan khusus untuk menguatkan tubuh badan agar dapat beribadat pada malam nanti dengan lebih selesa dan kuat.

Orang2 zaman sekarang ini, walaupun tidak mendapat ketiga-tiga faktor di atas, jika mereka mendapat mana2 dua dari yang di atas pun sudah dikira sangat bagus. Malah kalau hanya ada salah satu faktor di atas pun, sudah dianggap menepati kehendak Ramadan itu sendiri.

Inilah perkara2 yang kita kena faham, yang tidak dapat difahami dengan baik oleh kebanyakan orang, bukannya faham ikut cara dan selera kita saja.
Sebab itu dinamakan solat itu dengan nama Tarawih, iaitu ada rehat antara setiap 4 rakaat, dan mereka mendirikan solat tarawih sebanyak 20 rakaat malam. Tidak pernah ada tazkirah atau usrah antara solat tarawih dengan solat witir!

Malah, nama solat sunat yang kita dirikan itu iaitu ‘solat sunat tarawih’ diberi nama oleh Sayidina Umar r.a.,

bukannya oleh Nabi s.a.w. sebab tidak ada riwayat dan nas yang sahih menyebutkan bahawa Nabi memberi nama khusus kepada solat itu, tetapi jelas riwayat yang datang dari Khalifah Umar yang memberikan nama solat itu sebagai solat tarawih, dan nama itu kekal sehingga ke hari ini, malah turut sama digunakan dengan taatnya oleh kaum Syiah yang sangat benci kepada Khalifah Umar!

Kita tidak mahu mengatakan perbuatan mengadakan takzirah atau usrah atau sebagainya (banyak istilah canggih
yang digunakan!) itu sebagai satu bentuk gangguan khusus kepada jemaah, tetapi sendiri mau ingatlah!

4. Tidak bersahur kerana mampu bertahan tanpa perlu bersahur

biasanya banyak orang yang tidak bangun bersahur pada waktu sebelum subuh. Antara alasan yang diberikan ialah untuk diet
kerana mengurangkan makan lebih baik pada bulan puasa ini. Ada juga yang makan dan minum puas2 sebelum tidur, dan selepas
itu tidak bangun2 lagi untuk bersahur, walaupun sudah terjaga sebelum masuk waktu subuh. Banyak yang berkata mereka bekerja di tempat berhawa dingin, maka tidak terasa lapar dan
dahaga seperti yang dialami oleh orang2 yang bekerja di tengah panas. Kerana itu, kebanyakan orang yang berpuasa meninggalkan
amalan sahur pada waktu sebelum subuh. sepatutnya setiap umat Islam bangun sahur, walaupun dia mampu bertahan sepanjang hari tanpa bersahur, dia kena bersahur juga.

Bukan masalah tahan atau tidak mampu berlapar yang menjadi persoalannya, tetapi kerana ia adalah sunnah.

Bersahur itu sunnah Nabi s.a.w., bukannya saja2 bangun sahur.

Yang mampu bertahan tanpa bersahur pun disuruh bangun bersahur, yang tidak mampu bertahan kalau tidak bersahur pun disuruh bangun bersahur.
Nabi memerintahkan kita agar bersahur supaya mendapat berkat dan rahmat dari Tuhan. Ertinya orang yang bersahur itu mendapat berkat kerana ia bangun bersahur, puasanya berkat kerana bersahur, makannya itu berkat kerana bersahur, ibadatnya juga berkat kerana bersahur dan bangunnya kerana bersahur itu juga berkat.

Apatah lagi jika dia mentakkhirkan bersahur, lagi banyaklah berkatnya. Kata Nabi s.a.w. sebaik-baik sahur itu ialah yang takkhir pada sahurnya.
Bersahur itu sunnah Nabi s.a.w., ertinya orang yang bangun bersahur itu mengikut sunnah Nabi s.a.w.

Malah kerana sunnahnya bersahur itu, orang2 yang uzur, sakit, baru lepas bersalin dan sedang haid juga disuruh bangun bersahur bersama-sama orang yang berpuasa, untuk mendapat berkat dan kelebihan bersahur itu, walaupun mereka itu sememangnya tidak boleh berpuasa atau tidak mampu berpuasa.
Ia bukan sahaja dapat membantu menguatkan lagi tubuh, malah dapat memastikan kesihatan kita lebih terjamin dan keadaan tubuh badan lebih baik untuk jangka masa panjang. Melazimkan berpuasa tanpa bersahur akan menyebabkan tubuh badan boleh hilang air badan yang banyak.

Kesannya akan lebih buruk pada masa jangka panjang, terutama setelah usia meningkat 40-an atau lebih.

Bukan puasa itu yang salah, tetapi cara kita mengamalkan puasa itu yang tidak betul dan tidak mengikut sunnah, kerana melazimkan tidak bersahur.
Para Sahabat semuanya bersahur, tidak ada yang tidak bersahur. Marilah kita mengikut sunnah Nabi s.a.w. dan para Sahabat.

5. Berlebih-lebih menyambut malam tujuh likur tetapi bukan dengan ibadah

biasanya orang Melayu-Islam, terutama di Pulau Jawa dan beberapa tempat di Malaysia, begitu beria-ia menyambut ketibaan malam Tujuh Likur dengan menyalakan lampu2 dan pelita di sekeliling rumah, dengan kepercayaan malaikat akan datang ke rumah yang terang kerana malaikat suka kepada cahaya dan dicipta dari cahaya.
Pada malam 7 Likur itu juga mereka mengadakan beberapa aktiviti yang tidak dilakukan pada malam2 lain pada bulan Ramadan, dengan kepercayaan pada malam itulah diturunkan Lailatulqadar yang dijanjikan.

Pada malam itu mereka menyalakan api, memasang lampu di luar rumah, membuka tingkap2 dan langsir, membuka mulut tempayan

(orang zaman dulu2 la ni) dan menyalakan lampu di semua bilik yang ada, termasuk dapur. Mereka juga memberi makanan kepada jiran terdekat dan saudara mara, berwangi-wangi dan beberapa aktiviti lain lagi. Banyak yang beriktikaf di dalam masjid sepanjang malam itu sambil membaca Quran dan bersolat sunat.

Mereka juga menunggu ketibaan Lailatulqadar berdasarkan tanda2 yang dilihat pelik pada malam itu.

Selepas mendapat alamat Lailatulqadar itu, barulah mereka memulakan segala amalan yang baik seperti membaca Quran, solat tahajud, berzikir dst. Biasanya tanda2 seperti itu akan muncul pada waktu tengah malam atau selepas itu.

Itupun kalau dapat melihat tanda2 itu, kalau tak dapat? Macam mana?

sepatutnya kita mengikut apa yang dibuat oleh Nabi s.a.w. iaitu membanyakkan amalan pada sepuluh malam terakhir

bulan Ramadan, bukannya merayakan malam 7 Likur sahaja. Nabi s.a.w. tidak pernah menyambut malam Lailatulqadar pada malam 27 Ramadan.

Malam Lailatulqadar tidak tertentu pada malam 27 Ramadan sahaja, walaupun dalam Quran disebut malam itu terjadi bersamaan dengan malam turunnya Quran kepada Nabi s.a.w. dan malam berlakunya Perang Badar Kubra.

Tidak ada pengkhususan muktamad mengatakan Lailatulqadar itu berlaku hanya pada malam 27 Ramadan atau 7 Likur itu.

7 Likur yang dimaksudkan itu pun sebenarnya mengikut kalendar Jawa dan ia hanyalah sebuah panduan umum, bukannya khusus pada malam 7 Likur itu betul2, kerana Tuhan menurunkan Lailatulqadar tidak merujuk kepada kalendar Jawa itu.

Memang tidak salah menyebut malam Lailatulqadar itu sebagai 7 Likur, atau nama2 lain yang bersesuaian, tetapi yang salahnya ialah mengkhususkan segala-galanya pada malam 27 Ramadan sahaja.
Para ulama juga telah menetapkan bahawa Lailatulqadar itu berlaku pada malam ganjil pada 10 hari terakhir Ramadan, tidak ditentukan pada malam yang mana satu. Imam Ghazali sendiri menetapkan turunnya Lailatulqadar itu berdasarkan permulaan tibanya Ramadan. Contohnya jika awal Ramadan jatuh pada hari Sabtu, Lailatulqadarnya ialah pada malam 21 Ramadan dan begitulah seterusnya.

Kebetulan pula pada tahun 1430/2009, Lailatulqadar itu memang jatuh pada hari Khamis malam Jumaat,

21 Ramadan. Pada tahun 1429/2008 dahulu, Lailatulqadar jatuh pada malam 27 Ramadan (Isnin malam Selasa).

Itu sekadar contoh untuk menunjukkan kita tidak boleh mengkhusus hanya pada malam 7 Likur itu sahaja, tetapi digalakkan beramal pada 10 malam terakhir Ramadan keseluruhannya, tanpa mengira ia malam genap atau malam ganjil.

Lailatulqadar sebenarnya bermula pada waktu terbenamnya matahari pada hari tersebut dan berterusan sehingga terbitnya fajar subuh. Maknanya, alamat2 yang ditunjukkan pada waktu tengah malam atau selepasnya itu hanyalah khusus kepada orang2 tertentu sahaja, bukannya pada semua orang. Tidak semua orang mendapat rezeki melihat tanda2 Lailatulqaadar itu, seperti yang dialami oleh beberapa orang.

Kalau hendak beramal pun, tidak perlulah menunggu sehingga mendapat alamat tertentu seperti yang disebutkan itu.

Boleh sahaja beramal sebaik saja matahari terbenam, dan dia akan tetap mendapat pahala Lailatulqadar, sama seperti dia beramal pada waktu tengah malam tersebut. Malaikat berpusu-pusu turun untuk berrsalam dengan umat Islam sejak dari waktu awal maghrib hinggalah saat terbitnya fajar subuh, diakhiri dengan salamnya imam mengakhiri solat fardu subuh. Para malaikat yang amat banyak itu akan naik semula ke langit secara beransur-ansur sebaik sahaja matahari muncul di kaki langit.

Sehubungan itu, sambutlah Lailatulqadar dengan cara yang sudah ditunjukkan oleh Nabi s.a.w. dahulu dan diikuti oleh para Sahabat dengan baik dan betul. Bukannya mengikut cara yang entah dari mana sumbernya dan jelas tidak pernah dibuat oleh Nabi s.a.w. dan para Sahabat dahulu.

6. Mengurangkan ibadah setelah tahu malam Lailatulqadar telah berlalu

biasanya kita menanti-nanti malam Lailatulqadar dan membanyakkan amalan pada malam2 tertentu dengan harapan akan mendapat pahala yang sangat lumayan seperti dijanjikan di dalam Quran.

Ada juga orang yang sudah mengetahui bila berlakunya Lailatulqadar itu berdasarkan maklumat yang diberikan oleh para ulama dahulu. Lalu kerana itu dia bersiap-siap sepenuhnya untuk menyambut Lailatulqadar itu dan memenuhkan malamnya dengan apa saja amalan yang dirasakan mahu dan mampu dibuatnya. Itu tidak salah sebab memang kita dituntut beramal pada malam itu, agar mendapat pahala yang dijanjikan oleh Tuhan kepada kita.

Tidak ada orang yang mahu melepaskan peluang mendapat pahala amalan 1,000 bulan kerana telah dijanjikan secara jelas di dalam Quran.

Tetapi sayangnya selepas dia mengetahui bahawa Lailatulqadar itu sudah berlalu dan masih ada baki hari2 Ramadan selepas itu, maka dia sudah tidak lagi beribadat dan melakukan amalan yang baik seperti sebelumnya. Malah dia hanya tidur sahaja sepanjang malam baki2 terakhir Ramadan, bermalas-malas dan berehat-rehat saja, tidak ada nilai lagi baginya malam2 Ramadan yang selebihnya itu.

sepatutnya kita kena faham dengan sejelas-jelasnya bahawa Lailatulqadar itu diturunkan pada waktu dan malam yang tertentu, dan tidak dijelaskan pada malam2 yang mana satu dengan tujuan agar kita membanyakkan amalan pada sepuluh malam yang terakhir itu tanpa mengira sama ada ia sudah berlalu atau belum.

Bukan masalah Lailatuqadar itu telah berlalu atau tidak yang menjadi persoalannya tetapi sejauh mana kita mahu mengikut sunnah Nabi s.a.w. yang menjadi persoalan di sini. Kalau kita mahu mengikut sunnah Nabi kita, maka ikutlah baginda yang beramal sepanjang malam pada ssepuluh malam yang terakhir, tanpa mengira Lailatulqadar itu sudah berlalu atau masih belum tiba.

Sunnah Nabi s.a.w menunjukkan yang baginda beramal lebih banyak dari biasa, termasuk berdoa, pada sepuluh malam yang terakhir itu, tidak pernah Nabi s.a.w. berehat saja selepas Lailatulqadar itu berlalu.

Mustahil Nabi s.a.w. tidak tahu malam bila Lailatulqadar itu datang, kerana Nabi s.a.w. sudah ditemui oleh Malaikat Jibril pada awal maghrib lagi, menyatakan malam ini adalah malam yang diberkati itu.

Tetapi yang nyata walaupun setelah Lailatulqadar itu berlalu, Nabi s.a.w. tetap membanyakkan ibadah pada malam2 baki Ramadan itu, seolah-olah Nabi s.a.w. tidak pernah tahu yang Lailatulqadar itu telah berlalu.

Maknanya Nabi s.a.w. menyuruh kita membanyakkan ibadah sepanjang bulan Ramadan ini, secara khusus dan dikhususkan lagi pada malam2 sepuluh terakhirnya. Lailatulqadar itu hanyalah pemberian bonus besar-besaran dari Tuhan untuk kita, tetapi pada malam2 yang selepas Lailatulqadar itu, amalan kita harus dibanyakkan lagi, terus-terusan seolah-olah Lailatulqadar itu belum pernah tiba kepada kita lagi. Itulah yang ditunjukkan oleh baginda dan para Sahabat dahulu.

Lagi satu, salah satu tanda amalan Lailatulqadar kita diterima sepenuhnya oleh Tuhan ialah selepas Lailatulqadar itu berlalu, amalan kita akan bertambah lagi, sebab kita sudah mendapat semangat baru untuk melipatgandakan ibadah kita.

Secara mudah, orang yang telah mendapat wang bonus dari kerajaan atau syarikatnya, pastilah akan bekerja dengan lebih rajin dan bersungguh-sungguh lagi selepas itu. Begitu jugalah dengan Ramadan ini, ia pasti akan melipatgandakan amalannya pada baki Ramadan yang masih ada itu, kerana berasa amat gembira dengan pemberian Lailatulqadar yang jauh lebih banyak dan bernilai daripada pemberian bonus oleh pekerjaannya itu, seolah-olah ia belum tahu yang Lailatulqadar itu telah berlalu.

Itulah kefahaman yang sepatutnya kita amalkan, hasil daripada kefahaman kita terhadap riwayat tentang amalan Nabi pada malam2 sepuluh yang terakhir.

7. Menumpukan Ramadan sahaja untuk beribadat, bulan lain dikurangkan ibadahnya

biasanya kita akan melebihkan amalan pada bulan Ramadan sahaja, tidak pada bulan2 yang lain sehingga pada waktu2 mutakhir, keluarlah dari tulisan dan mulut para ulama masa kini bahawa kita sebagai umat Islam janganlah menjadi hamba Ramadan, tetapi jadilah hamba Allah, yang beramal tidak mengira Ramadan atau bukan.

Yang salah pada mereka ialah kita membanyakkan ibadat pada Ramadan sahaja, dengan niat sengaja mengejar pahala yang banyak, dan pada bulan2 lain tidak beramal sebanyak itu atau tidak beramal langsung.
Sama ada benar atau tidak, tidaklah diketahui kerana menurut apa yang ditulis dalam lidah pengarang Harakah keluaran sebelum Raya 1430 Hijrah/2009 Masihi, disebut jangan menjadi hamba Ramadan. Kata2 tersebut kononnya dipetik dari buku tulisan Dr Yusuf Qardhawi yang menyatakan demikian. Diikuti oleh tulisan Ustaz Shukri Yusof dalam kolumnya di Harian Metro beberapa hari kemudian dengan tajuk yang sama, iaitu jangan menjadi hamba Ramadan, yang juga memetik kata2 tokoh ulama yang sama. Maknanya sepakat para ulama zaman ini menggerakkan idea agar umat Islam jangan menjadikan Ramadan sahaja untuk kita beribadah, jadikan bulan2 lain sama seperti Ramadan juga, yakni giat beribadah sepanjang masa.

Atau dengan maksud yang lain yang agak negatif, ibadat kita pada bulan Ramadan ini hendaklah sama sahaja banyaknya dengan ibadah kita pada bulan2 biasa. Hanya dibezakan dengan bulan2 lain kerana ditambah puasa pada siang hari dan tarawih pada malamnya.

sepatutnya kita juga kena faham bahawa kita bukanlah hamba Ramadan, sebab kita memang hamba Allah, yang bebas merdeka, tidak dijadikan hamba oleh sesiapa atau mana2 pihak, termasuk hamba dunia, hamba sistem dan hamba2 yang lain, seperti hamba Ramadan seperti yang didakwa.

Ramadan itu hanyalah bulan dalam kalendar Islam, tidak lebih dari itu. Tidak pernah kita dengar ada orang yang pernah menjadi hamba Ramadan, walau dalam cara apa pun dan cara bagaimana pun. Agaknya bukan begitulah maksud sebenar yang hendak disampaikan oleh Yusof Qardhawi itu kepada kita, kerana menjadi hamba Ramadan tentulah tidak sama dengan menjadi hamba dunia, sebab itulah perlu dijelaskan bahawa menjadi hamba Ramadan memang disuruh Tuhan sedangkan menjadi hamba dunia sangat dibenci Tuhan.

Pada teori dan pemikiran yang biasa, persoalan itu betul dan benar belaka. Kita janganlah memilih bulan tertentu untuk membanyakkan amal ibadah, kerana mati tidak mengira masa, Ramadan pun belum tentu akan dapat kita lalui lagi, sebab entahkan esok entahkan lusa kita akan dipanggil mengadap Ilahi, tanpa sempat melihat Ramadan.

Sebab itu eloklah beramal sebanyak mungkin tanpa mengira bulan atau masa tertentu, yang kita belum pasti akan kita alami atau tidak.

Secara teorinya, memang nampak macam itulah, tidak salah dan tidak silap2 lagi.

Tetapi pada realitinya, tidaklah demikian, sebab kita hidup dalam dunia yang realiti, bukannya dalam dunia yang dipenuhi teori semata-mata.

Yang disayangkan ialah kenyataan bahawa kita menjadi hamba Ramadan itu agak keterlaluan dan tidak menepati syarak dan tidak berdasarkan sunnah yang jelas. Kita kena faham sebab apa Tuhan turunkan Ramadan itu kepada kita.

Khususnya Ramadan itu didatangkan kepada kita dengan tujuan2 yang tertentu, yang sudah dijelaskan dengan sejelas-jelasnya oleh Quran sendiri, oleh Nabi s.a.w. dan oleh para Sahabat dahulu.

Memang pada dasarnya kita bukanlah hamba Ramadan, kerana Ramadan tidak pernah menghambakan sesiapa, walau dengan apa cara pun. Ramadan itu adalah kurnia dan rahmat dari Tuhan yang amat khusus untuk kita, seluruh umat Nabi Muhammad s.a.w., dan tidak lebih dari itu. Tidak pernah timbul soal siapa menghambakan siapa dalam bulan yang mulia ini.

Tidak pernah diketahui ada orang yang dimasukkan ke neraka kerana menjadi hamba Ramadan.

Yang ada ialah yang masuk neraka kerana tidak berpuasa pada siang Ramadan dengan sengaja. Istilah hamba Ramadan itu sendiri perlu diperbetulkan dan huraiannya juga perlu ditepatkan lagi, agar tidak tersalah maksud.

Jauh maksudnya menjadi hamba Ramadan dengan menjadi hamba dunia.

Yang kita takut ialah kesan dari pernyataan ini nanti, dalam jangka masa panjang. Ditakuti nanti, pada masa akan datang umat Islam akan menyambut kedatangan bulan Ramadan dengan penuh selamba dan tidak membanyakkan ibadat apa2 pun kerana takut dituduh menjadi hamba Ramadan, atau untuk mengelakkan dari tergolong ke dalam golongan hamba Ramadan, kerana telah disebutkan yang demikian oleh Yusuf Qardhawi dan anak muridnya atau orang2 yang sealiran fahaman dengannya.

Pada teori memang bagus galakan agar membanyakkan ibadah pada bulan Ramadan dan diikuti pada bulan2 seterusnya sehingga tiba ke Ramadan yang akan datang. Tetapi berapa keratkah yang benar2 mampu berbuat demikian, terutama sekali pada zaman sekarang? Apakah orang yang memberi teori itu sendiri mampu berbuat seperti itu sepanjang bulan yang lain sehingga tiba ke Ramadan yang akan datang? Apakah orang2 yang ikut mengembangkan teori ini juga mampu berbuat demikian? Tanyalah kepada mereka yang berbuat demikian. Bukan masalah dia ulama besar, kita orang biasa, maka dia boleh bercakap apa saja. Memang mudah bercakap, tetapi hendak melaksanakannya amatlah susah. Kalau dia mampu melaksanakannya alangkah bagusnya, tidaklah cakap tak serupa bikin. Dapatlah kita menjadikannya contoh untuk diikuti dan diamalkan.

Kedatangan Ramadan itu amat perlu kita nantikan dan hargai dengan sepenuhnya.

Sebab itulah Tuhan yang Amat Pemurah mengurniakan kepada kita bulan yang dimuliakan-Nya itu iaitu Ramadan kepada kita, khusus untuk umat Nabi Muhammad sahaja, tidak kepada umat2 yang lain.

Pada bulan2 lain kita tidak akan mendapat balasan pahala yang sebanyak dan semurah pada bulan Ramadan.

Bulan Ramadan ini adalah bulan yang khusus Tuhan menurunkan kasih sayang-Nya dengan sebanyak-banyaknya, tidak seperti pada bulan2 lain. Umat Islam sememangnya dituntut agar membanyakkan ibadat dan berusaha keras mencari keredaan-Nya. Malah pintu neraka ditutup rapat dan syaitan2 juga dirantai jauh2 ke dalam dasar laut untuk menggalakkan kita beribadat. Hal2 ini tidak pernah dilakukan Tuhan pada bulan2 lain.

Ertinya, Tuhan sendiri pun amat tahu bahawa umat manusia ini tidak akan mampu bertahan berbuat ibadat seperti itu selama-lamanya, sebab manusia ini mempunyai sifat jemu, penat, bosan, lelah, hilang motivasi dst.

Itu belum lagi dikira dengan gangguan dari nafsu kita sendiri, gangguan dari para syaitan yang tidak dirantai, gangguan dari orang2 biasa, gangguan dari segi tidak ramai yang ikut beribadat seperti kita, dst…

Maka dalam setahun itu, sekali diberikan-Nya kita peluang untuk melipatgandakan ibadah kita, dengan harapan kita akan kembali bersemangat dan gigih mendekatkan diri kepada Tuhan.

Hendak menghabiskan sebulan Ramadan itu dengan penuh pun amat susahnya, inikan pula hendak menghabiskan setahun dengan ibadat yang banyak seperti itu, rasanya mustahil dapat dilakukan oleh sesiapa pun.

Sememangnyalah Ramadan ini kurnia Tuhan untuk kita kembali menambah apa yang telah sedia kurang sebelum ini. Itulah hikmah Tuhan menjadikan Ramadan itu sebagai bulan untuk beribadah, bukannya bulan untuk bertazkirah, berteori dan berusrah.

Ertinya secara tersirat Tuhan menyatakan bahawa kita amat lemah dalam soal beribadah sehingga perlu ‘dipaksa dan digalakkan’ untuk beramal ibadah, dan dibuat dalam bulan yang khusus.

Dipaksa maksudnya amalan puasa yang diwajibkan, malah dijadikan salah satu daripada Rukun Islam yang lima .

Digalakkan maksudnya pahala ibadat pada bulan ini diberi gandaan yang sangat banyak, sehingga solat sunat yang didirikan sama nilainya dengan pahala solat fardu pada bulan2 lain, pahala bacaan Quran diberi nilai 10 pahala bagi setiap huruf yang dibaca, berbanding hanya 1 pahala bagi setiap huruf pada bulan2 biasa, nilai sehari puasa Ramadan itu sendiri adalah lebih baik dari puasa setahun pada bulan yang lain dst…

Takkanlah kita tidak faham tentang hal ini. Itu ertinya memang Ramadan itu sendiri adalah bulan untuk kita beribadah, maka tidak salahlah kalau kita membanyakkan ibadat hanya pada bulan ini, kerana memang itulah yang dikehendaki oleh Tuhan dan Nabi kita yang mulia.

Tidaklah timbul persoalan kita menjadi hamba Ramadan, kerana yang demikian itu adalah salah tanggap yang nyata dan tidak menepati dengan sunnah yang telah berjalan seperti itu tanpa sebarang perubahan selama lebih dari seribu empat ratus tahun yang lalu….

Semua ulama muktabar pada zaman dahulu sudah mengikutnya dengan penuh taat dan penuh rasa kehambaan tanpa sebarang komen atau menyeru kepada perkara yang bukan2. Mungkin niat mereka menyebutkan perkara ini adalah baik dan untuk kebaikan, tetapi isi yang digunakan mungkin tidak berapa sesuai dengan apa yang sepatutnya digunakan.

8. Bergembira berakhirnya Ramadan dan bergembira menyambut Aidilfitri

biasanya kita amat gembira apabila hari raya kian hampir. Tidak salah kita berasa gembira dengan ketibaan hari raya yang amat dinanti-nantikan itu.

Semua orang akan ikut gembira dengan tibanya saat itu. Sehubungan dengan itu, segala persiapan menjelang tibanya hari besar itu disiapkan dengan sepenuhnya dalam masa sekitar seminggu sebelum hari raya tiba.
Sebahagian orang lebih hebat lagi kerana dia bukan sahaja amat gembira dengan hampir datangnya bulan Syawal, malahan dia juga amat bergembira dengan berakhirnya bulan Ramadan yang mulia ini. Apabila tibanya 1 Syawal, maka dia akan beraya sakan, mengalahkan orang lain yang berpuasa penuh.

sepatutnya kita mencontohi para tabiin dan salafus soleh yang amat menanti-nanti ketibaan bulan Ramadan yang mulia, seperti hadis Nabi s.a.w. yang menyebut bahawa sesiapa yang menyambut ketibaan Ramadan dengan iman dan keyakinan, hati gembira, bersungguh-sungguh, dia akan masuk syurga.

Itu belum lagi dia berpuasa dengan iman dan yakin. Baru nak menyambut Ramadan sahaja sudah dapat masuk syurga. Mereka juga menyambut ketibaan Syawal dengan hati yang amat sedih dan mengharapkan agar Ramadan yang didapati pada tahun ini bukanlah yang terakhir untuk dirinya. Mereka ingin menyambutnya lagi dan berasa tidak sabar menanti kedatangan Ramadan yang akan datang, selain tidak berapa peduli dengan ketibaan Syawal yang bakal menjelang tiba.

Bukanlah ertinya mereka tidak menyambut ketibaan Syawal ini, tetapi mereka kurang bergembira dengan kedatangannya, sebab ganjaran dan berkat Ramadan itu sudah berakhir dengan berakhirnya Ramadan.

Mereka berasa sangat sedih kerana tidak pasti lagi akan bertemu dengan Ramadan yang akan datang atau tidak.

Rezeki bertemu Ramadan bukanlah perkara mudah, sebab kalau dah ajal tiba, tidak akan ada Ramadan lagi untuk kita.

Sebab itulah mereka bersedih.

Mereka juga berasa amat sedih kerana masa untuk membolot pahala dan ganjaran yang paling mewah yang tidak pernah ditawarkan kepada mana2 umat pada masa lalu sudah berlalu, tidak lagi sama nilai dan pahala beribadah pada bulan puasa dengan bulan biasa.

9. Bersolat tarawih dengan berlaju-laju agar cepat habis dan dapat segera pulang ke rumah

biasanya kita mengamalkan solat tarawih sebanyak 20 rakaat dengan target untuk dihabiskan seawal mungkin, mungkin jam 10.30 malam atau lebih awal daripada itu. Jika imam itu dapat melaksanakan solat tarawih dengan laju, maka imam itu dipuji dan ramailah orang yang ikut berjemaah dengannya, sebab dia dapat solat tarawih dengan laju.

Tetapi jika imam itu solatnya lambat sedikit atau bacaannya panjang sedikit, maka makmun akan segera berkurangan kerana sebahagian makmumnya ‘lari’ ke surau atau masjid lain yang imamnya lebih ‘laju’.

Apa yang hendak dikejar, tidak tahulah. Biasanya kalau selepas solat tarawih, kita akan pergi ke kedai kopi dan duduk di situ jauh lebih lama daripada bersolat di masjid tadi. Itu kebiasaan bagi kebanyakan dari kita.

sepatutnya kita membanyakkan masa duduk di masjid dan surau. Jika di masjid, iktikaf lama2 memang dituntut dalam bulan puasa ini, tambahan pula masjid2 akan menutup pintu dan mengunci pagar luar pada jam 10.30 malam.

Maka sisa2 masa yang ada hendaklah digunakan sepenuhnya untuk beriktikaf.

Para ulama dahulu menghabiskan sepanjang malam bulan Ramadan dengan beriktikaf di masjid. Mereka hanya pulang untuk makan sahur dan kembali semula ke masjid selepas selesai bersahur. Masa rehat mereka hanyalah di masjid sahaja, tidak seperti kita yang masih sempat lagi ‘mengopi’ selepas selesai solat di masjid atau surau.

Tidak salah berbuat seperti itu sebab masa untuk kita pada zaman sekarang di masjid amat singkat. Maka di kedai kopilah tempat kita berlonggok. Asalkan mereka mahu datang untuk bertarawih, itu sudah dikira sangat bagus, berbanding banyak lagi di luar sana yang langsung tidak bertarawih sepanjang bulan Ramadan ini.

Alangkah ruginya golongan yang seperti ini!

Kalau dipanjangkan solat tarawih itu, banyak pula jemaah yang lari atau tidak datang lagi ke masjid.

Itupun akan jadi masalah yang lain pula.

Tetapi berdasarkan sejarah, memang para Sahabat dan tabiin dahulu bersolat tarawih hampir sepanjang malam, malah banyak dari mereka yang tidak tidur pada waktu malam. Kalau tidur pun, hanya sebentar sahaja.

10. Menolak amalan membaca selawat kepada Nabi dan Khulafa antara setiap solat tarawih

biasanya hanya orang yang berfahaman Wahabi yang menentang membaca selawat kepada Nabi s.a.w., baik selepas solat fardu mahupun selepas solat sunat.

Jelas di dalam beberapa banyak buku fatwa yang ditulis oleh kalangan ulama Wahabi pada zaman ini yang tidak menggalakkan kita membaca selawat, dengan alasan Nabi Muhammad s.a.w. yang kita baca selawat kepadanya itu sudah wafat, sudah meninggal dunia. Pahala bacaan selawat itu tidak akan sampai kepada baginda yang telah wafat. Itu rumusan daripada beberapa fatwa para ulama Wahabi seperti yang kita baca.

Sehubungan dengan itu, timbul persoalan di kalangan kaum Muslimin di negara ini tentang bidaah atau tidaknya bacaan selawat yang dibuat antara solat tarawih dan antara solat witir.

Yang menyokong akan mengemukakan hujah berdasarkan fakta sejarah pada zaman dahulu, manakala yang menentang mengemukakan hujah mereka sendiri pula, dan bertegas mahu bacaan selawat itu dibuat juga. Namun, situasi zaman yang berubah telah banyak membantu perubahan dalam sikap dan cara mengerjakan solat oleh para jemaah pada zaman ini.

Akhirnya banyak pihak yang mula mengurangkan bacaan selawat itu atas alasan ia tidak ada pada amalan para Sahabat dahulu, dan tidak juga pada zaman tabiin dan ulama salaf.

Menanglah akhirnya suara2 golongan yang mahukan bacaan selawat itu ditinggalkan. Yang tinggal kini hanyalah pelaksanaan solat tarawih yang dibuat tanpa sebarang selawat antara setiap salamnya.

Solat tarawih yang dahulunya riuh rendah dengan suara2 nyaring orang membaca selawat kini hampir sunyi sepi, hanya ada orang2 yang mendirikan solat tarawih dengan mengikut sunnah pada zaman Nabi s.a.w. dahulu dan pada zaman Sahabat.

sepatutnya kita kena faham bahawa membaca selawat itu sememangnya dituntut oleh Tuhan sendiri kerana membaca selawat itu adalah arahan Tuhan di dalam Quran sendiri, ia bukannya sekadar disuruh oleh Nabi kita sahaja.

Tidak pernah pula disebutkan bahawa selawat itu tidak disuruh lagi sebaik sahaja Nabi s.a.w. wafat meninggalkan kita dari dunia ini.
Ertinya, sama ada Nabi s.a.w. itu masih ada lagi bersama-sama kita atau telah tiada lagi, selawat itu tetap disuruh kita membacanya, kerana telah dimaktubkan di dalam Quran.

Tuhan sendiri membaca selawat kepada Nabi, para malaikat juga membaca selawat kepada Nabi, maka apakah kita tidak mahu membaca selawat kepada Nabi? Jangan jadi golongan yang rugi hanya kerana mahu mempertahankan hujah kita yang rapuh.

Membaca selawat itu sunat, sangat digalakkan membacanya pada bila2 masa saja, termasuk antara 2 solat yang didirikan, maka tidak timbul ia bidaah jika dibaca selepas solat tarawih. Bacalah selawat itu pada bila2 masa pun, walau sebanyak mana pun, tidak akan ada bidaah lagi pada pembacaannya itu. Hujah dari mana yang digunakan yang mengatakan membaca selawat di antara solat tarawih itu adalah bidaah? Bukankah selawat tu sangat dituntut membacanya, lebih2 lagi pada bulan Ramadan yang pahala bacaan selawat kita akan digandakan dengan beribu-ribu kali ganda? Tidak salah ia dibaca, lebih2 lagi jika dibaca dengan penuh semangat dan penuh rasa cinta kepada Nabi s.a.w. Lagi banyak dibaca lagi bagus, sebab Nabi makin suka dan cinta kepada orang yang banyak membaca selawat kepadanya.

Pelik keranaorang yang berkata mereka faham tentang sunnah tetapi tidak faham tentang perintah dari Quran sendiri yang menyuruh kita membanyakkan selawat kepada Nabi .sa.w. sepanjang masa.

BERIKUT IALAH PERKARA BIDAAH YANG MASYARAKAT KITA AMALKAN!
1. Bid’ah Berzikir Dengan Keras Setelah Salam Shalat Tarawih
2. Membangunkan Orang-Orang untuk Sahur
3. Melafazkan Niat
4. Imsak
5. Menunda Azan Magrib Dengan Alasan Kehati-Hatian
6. Takbiran
7. Padusan (mandi di pagi raya)
8. Mendahului Puasa Satu Hari Atau Dua Hari Sebelumnya
9. Perayaan Nuzulul Qur’an
10.Berziarah Kubur Karena Ramadhan

Bidaah dalam Bulan Ramadhan
Dalam bulan Ramadhan pula , masyarakat Melayu gemar mempercepatkan solat tarawih . Mereka mengerjakan solat tarawih hanya mengambil masa setengah jam dari solat Isyak sehingga witir . Oleh kerana terlalu laju , banyaklah kecacatan yang berlaku . Ini termasuklah surah al-Fatihah yang dibaca senafas , tidak menjaga tuma’ninah dalam rukuk , sujud , duduk antara dua sujud dan iktidal .

Dalam hal ini imam al-Ghazali berkata : “ Kamu manghadiahkan solat kamu kepada Allah , maka janganlah kamu menghadiahkan solat kamu dengan sifat-sifat yang tersebut ( buruk ) , pasti anda akan menerima siksaannya .”



SK : OLEH ITU MARILAH KITA AMALKAN SUNNAH NABI MUHAMMAD SAW... JANGAN JADI KAFIR DAN MENAMBAH-NAMBAH URUSAN AGAMA INI. SYARIAT AGAM ISLAM INI SUDAH CUKUP SEMPURNA. TIDAK PERLU TAMBAH ATAU KURANGKAN.... IA SUDAH DISEMPURNAKAN OLEH ALLAH SWT DAN SUDAH DIREDAI ALLAH... MAKA IKUTILAH SUNNAH NABI DALAM SEGALA IBADAH KEPADA ALLAH. AGAR IBADAT KITA TIDAK SIA-SIA.... PEGANGLAH DUA PERKARA YANG KAMU TIDAK AKAN SESAT SELAMANYA... ITULAH QUR'AN DAN SUNNAH NABI MUHAMMAD SAW....

Tiada ulasan: